Techfin Insight — Generasi Z, yang lahir antara 1997 hingga 2012, kini menjadi kelompok populasi terbesar di Indonesia.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Gen Z menyumbang sekitar 27,94% populasi, atau lebih dari 74 juta jiwa.
Besarnya jumlah ini membuat cara pandang, nilai, dan pilihan hidup mereka menjadi isu penting di dunia kerja dan masyarakat luas.
Salah satu ciri menonjol dari generasi ini adalah perhatian tinggi terhadap kesehatan mental, work-life balance, dan gaya hidup slow living yang menekankan kesadaran dan ritme hidup lebih manusiawi.
Prioritas Baru Gen Z: Mental Health dan Ritme Hidup Lebih Manusiawi
Studi dari Oxford Brookes University menunjukkan bahwa Gen Z menempatkan mental health, inklusivitas, dan work-life balance sebagai prioritas utama ketika memilih pekerjaan.
Temuan ini sejalan dengan survei global Deloitte, yang menyebut banyak Gen Z merasa pekerjaan menjadi salah satu sumber utama stres dan kecemasan akibat jam kerja panjang, minim apresiasi, hingga lingkungan kerja yang toksik.
Di Indonesia sendiri, gambaran ini terlihat dalam berbagai survei yang menerangkan bahwa generasi ini bukan hanya peduli mental health, tetapi sedang menghadapi tekanan nyata.
Tekanan Nyata: Gambaran Kesehatan Mental Gen Z Indonesia
Survei Jakpat 2024 mengungkap bahwa 61% Gen Z Indonesia mengalami mood swings dalam enam bulan terakhir, 54% mengalami gangguan tidur, dan 37% mengalami kecemasan.
Laporan Kompas juga menyebut kelompok usia 15–24 tahun mendominasi angka depresi yang tercatat di layanan kesehatan mental, dengan prevalensi sekitar 10,4%.
Data tersebut diperkuat hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), yang menemukan sekitar 5,5% remaja dan usia awal dewasa mengalami gangguan mental dalam setahun terakhir.
Meski begitu, hanya sebagian kecil yang mengakses layanan profesional karena stigma, biaya, atau ketersediaan yang terbatas.
Cara Gen Z Memandang Pekerjaan dan Nilai Hidup
Di tengah tekanan hidup tersebut, Gen Z membentuk pola pikir baru dalam bekerja. Tidak seperti generasi sebelumnya yang mengejar stabilitas, jabatan, atau gaji besar, Gen Z cenderung mengutamakan pekerjaan yang selaras dengan nilai hidup, memberi ruang kreativitas, fleksibilitas, dan memungkinkan mereka tetap memiliki kehidupan di luar kantor.
Namun bukan berarti mereka anti-kerja keras. Justru ketika berada di lingkungan yang sehat, Gen Z dapat bekerja all-out, produktif, dan penuh ide.
Tetapi ketika lingkungan kerja dianggap toksik, tidak manusiawi, atau tidak sesuai nilai mereka, Gen Z tidak ragu untuk resign.
Mobilitas Tinggi dan Tantangan Ekonomi yang Membentuk Generasi Baru
Fenomena ini terlihat pada tingginya mobilitas kerja generasi muda. Forbes mencatat tren global bahwa Gen Z lebih berani meninggalkan pekerjaan yang membahayakan kesehatan mental.
Di Indonesia, tantangannya bahkan lebih kompleks. BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi berada pada kelompok usia 15–24 tahun, yakni sekitar 16,16%.
Ketidakpastian ekonomi ini menjadi sumber stres tersendiri dan menambah tekanan mental bagi Gen Z—terutama mereka yang baru lulus namun belum mendapatkan pekerjaan layak.
Kesadaran Kolektif: Dorongan Gen Z untuk Pendidikan Kesehatan Mental
Di sisi lain, kesadaran mereka terhadap kesehatan mental tergolong tinggi. Survei IDN Research Institute mencatat bahwa 53% Gen Z dan milenial Indonesia ingin pendidikan kesehatan mental masuk ke kurikulum sekolah.
Ini menunjukkan generasi ini bukan sekadar overthinking, tetapi mendorong perubahan struktural agar kesehatan mental diakui sebagai aspek penting kehidupan.
Dunia Kerja Harus Berubah: Ekspektasi Gen Z terhadap Kultur Perusahaan
Dengan realitas tersebut, perusahaan dituntut beradaptasi. Gen Z menginginkan tempat kerja yang fleksibel, memiliki kultur transparan dan suportif, serta menyediakan program dukungan kesehatan mental, mulai dari konseling hingga mental-health days.
Mereka juga menghargai pekerjaan yang bermakna dan memungkinkan perkembangan diri. Lingkungan kerja yang mampu memenuhi kebutuhan ini berpeluang mendapatkan loyalitas Gen Z, loyalitas yang bukan dibangun atas rasa takut, melainkan rasa dihargai.
Kesimpulan: Generasi yang Tidak Takut Menjaga Batas dan Memilih Jalan Hidup Sehat
Pada akhirnya, Gen Z bukanlah generasi manja atau malas. Mereka justru generasi yang memahami batas, memprioritaskan kesehatan diri, dan berani mengatakan tidak pada budaya kerja yang tidak sehat.
Mereka membawa perspektif baru tentang bekerja, bahwa kesuksesan tidak harus mengorbankan kesehatan mental.
Bahwa hidup bukan hanya tentang bekerja, tetapi juga tentang bertumbuh, merasa damai, dan memiliki ruang untuk menjadi manusia seutuhnya.
Penulis: Rifki Baedowi
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




