Serang, Techfin Insight — Hari itu, halaman kantor Pemerintah Provinsi Banten tak hanya dipenuhi wangi masakan rumahan, tapi juga semangat baru menuju masa depan energi bersih.
Dengan balutan acara yang bertajuk Electrifying Lifestyle Vaganza, PLN UID Banten, Pemprov Banten, dan Tim Penggerak PKK menyatukan langkah: memperkenalkan gaya hidup yang ramah lingkungan lewat lomba memasak menggunakan kompor induksi dan bahan pangan B2SA (Bergizi, Beragam, Seimbang, dan Aman).
Namun acara ini bukan sekadar festival kuliner biasa. Di balik aroma jagung rebus dan sambal bakar, ada misi besar: membumikan teknologi bersih hingga ke dapur-dapur rumah tangga di seluruh Banten.
Kompor Induksi, Pangan B2SA, dan Visi Net Zero Emission
Gubernur Banten Andra Soni menyebut kegiatan ini sebagai bentuk sinergi yang nyata antara pemerintah dan PLN dalam mendukung transisi energi nasional.
“Kompor induksi tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga lebih efisien dan aman. Ini sejalan dengan target kita menuju net zero emission 2060,” ujarnya di hadapan ratusan peserta.
Menurutnya, kompor induksi menjadi solusi konkret yang bisa langsung dirasakan masyarakat—bukan hanya jargon teknologi hijau yang jauh dari keseharian.
Tak hanya dari sisi efisiensi energi, gaya hidup ini juga menyentuh isu yang lebih luas seperti ketahanan pangan dan pencegahan stunting, dua isu prioritas di Banten.
Ketahanan Pangan Dimulai dari Kompor
Ketua TP PKK Provinsi Banten Tinawati Andra Soni berbicara tentang dapur sebagai ruang strategis pertama dalam perubahan pola hidup keluarga.
“Piring makan keluarga adalah ruang pertama perubahan. Lewat B2SA, kita sajikan makanan yang sehat dan aman. Ditambah kompor induksi, kita memasak dengan lebih bersih, presisi, dan hemat,” tuturnya.
Ia mengajak seluruh ibu-ibu di Banten untuk mulai bereksperimen dengan teknologi memasak modern sambil tetap menjaga cita rasa lokal.
PLN: Dari Penyedia Energi Jadi Penggerak Perubahan
Di sisi lain, General Manager PLN UID Banten, Muhammad Joharifin, memaparkan data yang menarik: kompor induksi memiliki efisiensi termal hingga 90 persen, jauh lebih tinggi dibanding kompor gas.
“Untuk merebus satu liter air, kompor gas butuh biaya sekitar Rp170, sedangkan kompor induksi hanya Rp120,” jelasnya.
Ini bukan sekadar hitungan penghematan, tapi juga statement bahwa energi listrik kini lebih terjangkau, aman, dan cerdas.
Acara ini menjadi bagian dari kampanye Electrifying Lifestyle yang digaungkan PLN di berbagai daerah. Edukasi yang dilakukan tidak hanya menyasar masyarakat umum, tapi juga mendukung kebijakan Pemprov Banten seperti Swasembada Energi dan Ketahanan Pangan.
“Kami siap hadir sebagai mitra strategis untuk Pemprov Banten. Dari listrik yang andal, hingga kompor yang bersih, semuanya adalah bagian dari ekosistem baru menuju masa depan,” tambah Joharifin.
Jagung dan Teknologi: Simbol dari Dapur Masa Depan
Dalam perlombaan, para peserta diminta menyajikan olahan berbahan dasar jagung, komoditas unggulan Banten. Hasilnya: makanan lokal yang menggugah selera, dimasak dengan alat berteknologi tinggi, menyatu dalam harmoni.
Di tengah wajah-wajah ibu rumah tangga yang sumringah dan srikandi PLN yang antusias mendampingi, satu pesan terasa kuat: energi bersih bukan hanya urusan teknis, tapi urusan dapur, rumah, dan keluarga.




