Techfin Insight – Sejak awal 2023, dunia digital marketing menghadapi perubahan besar: kehadiran AI generatif seperti ChatGPT, Gemini (Google), Copilot (Microsoft), hingga peluncuran AI Overviews di halaman pencarian Google.
Teknologi ini mengubah cara orang mencari informasi. Jika dulu pengguna mengetik kata kunci dan mengklik hasil pencarian, kini mereka cukup bertanya ke chatbot atau membaca ringkasan AI langsung di halaman pencarian.
Akibatnya, banyak digital marketer melaporkan penurunan performa SEO yang signifikan, mulai dari penurunan impression, CTR (Click-Through Rate), hingga turunnya jumlah leads harian.
Mengapa Trafik SEO Turun Sejak AI Merebak?
1. Perubahan Perilaku Pengguna
Kini banyak orang tidak lagi mengklik hasil pencarian di Google. Mereka cukup membaca jawaban instan dari AI di halaman utama (zero-click search). Data dari SparkToro (Maret 2024) menunjukkan:
- Hanya 39% pencarian Google yang menghasilkan klik ke website.
- Lebih dari 60% pencarian sekarang berakhir tanpa klik.
Sementara, ChatGPT dan Gemini digunakan jutaan orang untuk mencari info harian, menggantikan kebutuhan membuka blog atau forum.
2. AI Overviews Menggeser Posisi Website
Google AI Overviews (dulu dikenal sebagai SGE) mulai diluncurkan secara luas di 2024. Fitur ini menampilkan jawaban AI di bagian atas SERP (Search Engine Result Page), membuat konten website tergeser ke bawah.
Bahkan artikel ranking #1 pun kini tidak lagi mendapat klik sebanyak dulu.
3. Konten Generik Sudah Tidak Efektif
Topik seperti “apa itu email marketing”, “cara membuat CV”, atau “pengertian SEO” sudah terlalu mudah diringkas oleh AI. Website yang hanya menyajikan definisi umum atau tutorial standar kalah saing karena informasinya dapat langsung dijawab oleh chatbot.
Apa yang Harus Dilakukan Digital Marketer?
Sebagai digital marketer, kita harus segera beradaptasi dengan perubahan ini, bukan melawannya. Berikut adalah strategi yang bisa diterapkan agar trafik tetap stabil dan leads harian tetap meningkat.
1. Pindahkan Fokus dari “Ranking” ke “Branding”
Brand yang kuat membuat orang mencari langsung nama kamu di Google (branded keyword). Misalnya: “harga kursus OTCA”, “produk Lokalate”, “blog Neil Patel”.
Tips:
- Bangun eksistensi di TikTok, Instagram, YouTube Shorts.
- Optimalkan profil Google Business dan Knowledge Panel.
- Konsisten membangun nama penulis dan narasumber sebagai figur ahli (author authority).
2. Buat Konten Berdasarkan Pengalaman Nyata
AI bisa meniru informasi umum, tapi tidak bisa meniru pengalaman manusia. Konten berbasis first-hand experience jauh lebih tahan terhadap AI.
Contoh:
- Studi kasus penggunaan software.
- Ulasan produk berdasarkan pengalaman pribadi.
- Laporan hasil eksperimen iklan digital atau konten viral.
3. Optimalkan E-E-A-T: Experience, Expertise, Authority, Trust
Google semakin mengutamakan konten yang ditulis oleh orang berpengalaman, bukan hanya ditulis rapi. Pastikan:
- Penulis memiliki bio dan portofolio nyata.
- Artikel dilengkapi data pendukung, testimoni, dan referensi terpercaya.
- Konten mencerminkan opini ahli, bukan hasil rewrite.
4. Gunakan Strategi Konten Anti-Ringkas
Hindari konten yang terlalu generik atau mudah diringkas. Fokuslah pada konten:
- Perbandingan spesifik: “Perbandingan hasil iklan TikTok vs Instagram 2025”
- Data lokal: “Strategi digital marketing untuk UMKM di Surabaya”
- List resource niche: “10 tools AI untuk content planner di agensi kecil”
5. Perkuat Kanal Non-Google
Diversifikasi trafik adalah kunci jangka panjang. Fokus ke kanal yang tidak terlalu tergantung SEO:
- YouTube: masih susah diringkas oleh AI.
- Newsletter: membangun trafik langsung dan engagement setia.
- Komunitas Telegram, WA, atau Discord: membangun komunitas loyal.
6. Optimasi Konten untuk AI Feed
Justru manfaatkan AI Overviews! Buat konten yang bisa direferensikan oleh AI:
- Gunakan format tanya-jawab (FAQ)
- Buat artikel dengan struktur step-by-step
- Tambahkan schema markup (FAQ, HowTo, Product Review)
7. Maksimalkan Retargeting dan Lead Magnet
Jika trafik turun, maksimalkan pengunjung yang sudah datang. Gunakan:
- Retargeting Ads di Google & Meta.
- Lead magnet seperti eBook, webinar, konsultasi gratis.
- Formulir opt-in ringan agar pengunjung jadi subscriber.
8. Tingkatkan UX dan Konversi Situs
Jangan hanya fokus menarik trafik, tapi juga konversi:
- Kecepatan website harus optimal (Core Web Vitals)
- CTA jelas dan kontras
- Formulir mudah diisi
- Gunakan popup cerdas: exit intent, timer, atau scroll trigger
Gunakan AI Sebagai Asisten, Bukan Ancaman
Sebagai digital marketer, kita juga bisa menggunakan AI untuk memperkuat strategi:
| Tujuan | Gunakan AI untuk… |
|---|---|
| Riset konten | Menganalisis intent dan topik tren |
| Draft konten | Membuat outline artikel atau script video |
| Optimasi SEO | Mengatur keyword, internal link, dan struktur |
| Ide konten sosial media | Brainstorming konten Reels & TikTok |
Tools seperti ChatGPT, SurferSEO, NeuronWriter, dan Jasper bisa mempercepat produksi konten dan mengurangi waktu riset.
AI memang mengubah cara kita mengelola SEO, tapi bukan berarti SEO mati. Yang perlu dilakukan digital marketer saat ini adalah:
- Beradaptasi dari “trafik massal” menjadi “trafik berkualitas”.
- Fokus membangun brand dan konten autentik.
- Diversifikasi sumber trafik dan tingkatkan konversi pengunjung.
Di era AI, pemenangnya adalah mereka yang paling cepat beradaptasi dan paling dekat dengan audiensnya, bukan hanya yang punya ranking tinggi.




