Techfin Insight — Para pemimpin keamanan informasi, regulator, pejabat pemerintah, dan pelaku industri teknologi berkumpul dalam IndoSec 2026 di The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place, pada 15–16 September 2026. Memasuki penyelenggaraan kesembilan, konferensi ini menyoroti tantangan keamanan siber Indonesia, mulai dari kedaulatan data dan kejahatan keuangan berbasis siber hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Diselenggarakan oleh Tradepass, IndoSec 2026 mempertemukan para pemimpin keamanan siber dari sektor perbankan, telekomunikasi, pemerintahan, perdagangan elektronik, dan sektor strategis lainnya. Selain menjadi forum pertukaran pengetahuan, acara ini juga menghadirkan perkembangan kerja sama industri melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara MarkAny dan Labrador Labs.
IndoSec 2026 Libatkan Institusi Keamanan Nasional
Tiga institusi yang memiliki peran penting dalam ekosistem keamanan nasional dan digital Indonesia kembali mendukung penyelenggaraan IndoSec 2026. Ketiganya adalah Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla).
Perwakilan ketiga institusi tersebut bersama Praveen Venu, Director Tradepass, memimpin seremoni pembukaan acara. Agenda dilanjutkan dengan pidato utama yang membahas prioritas keamanan siber Indonesia, termasuk hubungan antara kebijakan, teknologi, ancaman baru, dan tanggung jawab kolektif.
Sejumlah pejabat turut hadir dalam rangkaian acara, di antaranya Alfian Ilarizky, S.ST., M.T., Head of the Telecommunication Sector Team sekaligus Associate Cyber and Crypto Specialist di BSSN; Muchtarul Huda, Director of Digital Space Monitoring Strategies and Policies di Komdigi; serta Kolonel Adriansyah Putra Harahap, Senior IT Officer di Bakamla.
Keterlibatan institusi tersebut menempatkan isu keamanan siber dalam konteks yang lebih luas, tidak hanya sebagai persoalan teknis, tetapi juga sebagai bagian dari tata kelola digital dan perlindungan kepentingan nasional.
Para Pemimpin Industri Bahas Tantangan Keamanan Siber
Rangkaian diskusi IndoSec 2026 mencakup berbagai persoalan yang dihadapi organisasi dalam menjaga keamanan sistem dan data. Topik yang dibahas antara lain kedaulatan data cloud, kejahatan keuangan berbasis siber, pertukaran intelijen ancaman lintas negara, serta manajemen identitas.
Pembicara dari sektor pemerintahan, pertahanan, dan industri turut memberikan perspektif berdasarkan bidang masing-masing.
Di antara tokoh yang mengisi sesi konferensi adalah Brigadir Jenderal Sigit Widodo, S.I.K., Director of Law Enforcement Coordination and Protection of Law Enforcement Officers di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT); Mayjen TNI Iroth Sonny Edhie, M.H.I., Head of Army Communications and Electronics Centre di Pusat Komunikasi dan Elektronika Angkatan Darat (Puskomlekad); Rendra Perdana, Chief Information Security Officer sekaligus VP Information Security DANA Indonesia; serta Farina Mutia, Information Security Head sekaligus Country CISO Indonesia di UOB.
Kehadiran para pembicara dari beragam sektor tersebut mencerminkan luasnya cakupan tantangan keamanan digital. Perlindungan sistem keuangan, infrastruktur digital, identitas pengguna, dan informasi lintas batas membutuhkan pendekatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
AI Mengubah Lanskap Ancaman Keamanan Siber
Perkembangan AI menjadi salah satu perhatian utama dalam diskusi IndoSec 2026. Teknologi ini menawarkan peluang untuk meningkatkan kemampuan pertahanan digital, tetapi juga dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk mengembangkan serangan yang semakin canggih.
Marcel Judodihardjo, Customer Solutions Consultant di Google Cloud Security, menekankan pentingnya kesadaran pengguna dalam menghadapi ancaman digital yang terus berkembang.
“Hal yang utama sekarang bukan hanya teknologinya, tetapi juga kesadaran,” ujarnya dalam pernyataan yang diterjemahkan dari bahasa Indonesia.
Marcel juga mendorong masyarakat untuk terus memperbarui literasi digital agar mampu mengenali ancaman seperti penipuan dan peretasan. Menurutnya, kesadaran terhadap risiko menjadi bagian penting dari upaya perlindungan di tengah perubahan lanskap ancaman.
Perspektif lain disampaikan Pankaj Dubey, Co-founder dan Chief Technology Officer Sparkle Security. Ia menyoroti bagaimana perkembangan AI dapat mengubah keseimbangan kemampuan antara penyerang dan pihak yang bertanggung jawab melindungi sistem.
“Setiap kali terjadi perubahan teknologi, dan sekarang dengan AI, ChatGPT, Gemini, serta berbagai teknologi lainnya, para peretas akan menjadi semakin cerdas dan kreatif,” kata Dubey.
Ia menambahkan bahwa pihak yang bertahan, termasuk bank dan sistem keuangan, juga akan terus meningkatkan kemampuan menghadapi serangan. Namun, menurutnya, manusia masih menjadi titik terlemah dalam keseluruhan upaya tersebut.
Sparkle Security turut menandai kehadirannya di pasar Indonesia melalui IndoSec 2026. Perusahaan tersebut memperkenalkan pendekatan berbasis AI untuk Secure Software Development Life Cycle (Secure SDLC), yang berfokus pada pengamanan proses pengembangan perangkat lunak.
Kedua perspektif tersebut menyoroti dua aspek yang saling melengkapi: pengembangan teknologi pertahanan dan peningkatan kesadaran manusia sebagai bagian dari strategi keamanan siber.
MarkAny dan Labrador Labs Tandatangani MoU
Salah satu perkembangan penting dalam IndoSec 2026 adalah penandatanganan nota kesepahaman antara MarkAny dan Labrador Labs.
Berdasarkan keterangan Tradepass, kesepakatan tersebut mempertemukan perusahaan yang bergerak di bidang keamanan perusahaan dengan spesialis rantai pasok yang tengah berkembang. Kedua pihak menjajaki kemitraan strategis untuk memasuki pasar keamanan siber Asia Tenggara secara bersama-sama dan menyediakan layanan keamanan terintegrasi.
Kerja sama ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi bisnis yang muncul dalam forum tersebut. Di tengah meningkatnya kompleksitas ancaman digital, kemitraan antarpelaku industri membuka peluang untuk menggabungkan keahlian dan layanan dalam menjawab kebutuhan organisasi.
Penandatanganan MoU tersebut juga memperlihatkan bahwa forum industri seperti IndoSec tidak hanya berfungsi sebagai ruang diskusi, tetapi dapat menjadi tempat bagi perusahaan untuk menjajaki hubungan bisnis dan memperluas jangkauan pasar.
Puluhan Vendor Teknologi Meramaikan IndoSec 2026
Selain menghadirkan pembicara dari pemerintahan dan industri, IndoSec 2026 diikuti puluhan penyedia teknologi yang bergerak di bidang keamanan siber, cloud, manajemen identitas, perlindungan data, dan infrastruktur digital.
Sejumlah perusahaan yang tercantum dalam siaran pers penyelenggara meliputi SentinelOne, Sophos, ManageEngine, Ping Identity, SOCRadar, Google Cloud, CloudMile, KnowBe4, Veeam, Sparkle Security, CrowdStrike, Thales, HackerOne, Bitdefender, Qualys, AhnLab, GitLab, Indosat Business, Barracuda, Devo, Orca Security, Tenable, Securonix, Mimecast, Netskope, dan Wiz.
Daftar peserta pameran tersebut juga mencakup perusahaan seperti MarkAny, S2W, Netcraft, Chainguard, ThreatLocker, dan Tenable, bersama berbagai penyedia solusi teknologi lainnya.
Keberagaman perusahaan yang hadir mencerminkan luasnya kebutuhan keamanan digital organisasi. Perlindungan sistem tidak lagi terbatas pada satu lapisan teknologi, tetapi mencakup pengamanan perangkat lunak, identitas, data, layanan cloud, serta infrastruktur yang mendukung operasional bisnis.
IndoSec Awards 2026 Apresiasi Pencapaian Industri
Menjelang penutupan rangkaian konferensi, IndoSec Awards 2026 digelar untuk memberikan pengakuan kepada individu dan organisasi yang dinilai berkontribusi terhadap perkembangan keamanan siber.
Menurut siaran pers Tradepass, penghargaan tersebut mencakup tujuh kategori yang dinilai oleh panel juri. Namun, materi yang diterima tidak merinci nama pemenang setiap kategori.
Praveen Venu, Director Tradepass, mengatakan IndoSec telah berkembang selama sembilan edisi, dari sebuah komunitas kecil menjadi salah satu pertemuan besar bagi para pemimpin keamanan siber, pegiat teknologi, dan penyedia solusi yang melayani kebutuhan Indonesia.
Perkembangan tersebut memperlihatkan upaya penyelenggara untuk membangun ruang pertemuan bagi para pemangku kepentingan yang terlibat dalam penguatan keamanan digital nasional.
Melalui diskusi lintas sektor, pengenalan teknologi, apresiasi industri, dan penjajakan kerja sama bisnis, IndoSec 2026 menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi tantangan keamanan siber.
Penyelenggaraan ini sekaligus menyoroti sejumlah prioritas yang terus berkembang, termasuk pemanfaatan AI, perlindungan sistem keuangan, keamanan data, serta peningkatan kesadaran pengguna. Upaya memperkuat keamanan siber membutuhkan dukungan teknologi yang memadai, tata kelola yang baik, dan keterlibatan manusia di seluruh ekosistem digital.
Penulis: Liora Navindra Shasmitha
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.







