Techfin Insight – Panggung utama PLN Mobile Jawara Run 2025 pada Minggu pagi itu menjadi saksi—bahwa suara bukan sekadar gema, melainkan panggilan takdir. Di hadapan ribuan pelari dan matahari yang mulai meninggi, Sofik Emeraldy berdiri dengan mikrofon di tangan dan keyakinan di dada.
Tak ada yang menyangka, perjalanan kariernya dimulai dari “jebakan” manis dari mantan manajernya waktu masih bekerja di salah satu lembaga filantropi di Kota Serang.
“Dulu itu saya sering tiba-tiba disuruh ngasih sambutan, tanpa briefing, langsung di atas panggung, tanpa persiapan, tanpa aba-aba. Rasanya seperti dilempar ke kolam tanpa pelampung,”” kenangnya sambil tergelak.

“Dan yang suka ‘menjebak’ itu justru manajer saya sendiri, Mas Setiawan Chogah,” tambahnya, menyebut nama yang kini menjabat sebagai Editor in Chief Techfin Insight—media yang justru kini sedang menulis kisahnya.
Namun dari kolam itulah, Sofik belajar berenang. Dan ternyata, ia bukan hanya bertahan, tapi berenang dengan gaya indah dan percaya diri.
Dari sambutan-sambutan kecil, ia lalu dipercaya jadi MC internal, lalu eksternal, hingga menjadi trainer komunikasi. Bahkan kini, suaranya dikenal pula lewat proyek voiceover profesional.
Dari Jurusan yang Tak Linear ke Jalan yang Mengalir
Tak banyak yang tahu, Sofik bukan lulusan komunikasi atau penyiaran. Ia menamatkan studi di jurusan Manajemen Perbankan dan Bisnis Syariah.
Ironisnya, dunia perbankan tak pernah benar-benar jadi rumahnya. Yang ia temukan justru: kemampuan berbicara adalah modal bisnis paling manusiawi.
“Ilmu bisnis memang saya pelajari dari kampus,” ujarnya, “tapi ternyata, yang lebih saya gemari adalah berbicara, menyampaikan gagasan, membangun koneksi melalui suara.”
Itulah titik beloknya. Ketika banyak orang mengejar karier linier, Sofik justru menekuni jalan sunyi yang belum tentu dilirik orang: komunikasi publik.
MC Bukan Sekadar Pembawa Acara
Bagi Sofik, menjadi MC bukan soal memandu acara dengan suara nyaring dan raut ceria. Lebih dari itu, ini soal membaca situasi, menjaga emosi audiens, merangkai kata-kata dengan kepekaan, dan memanusiakan momen.
“MC itu harus tahu di mana titik naik dan turun emosi penonton. Gak bisa asal cuap. Kita ini penjaga tempo,” katanya dengan penuh kesadaran.
Dan memang benar. Di setiap event yang ia pandu, terlihat bahwa Sofik bukan hanya hadir sebagai pelengkap acara. Ia menjadi ruhnya.
Itulah mengapa ia sering didaulat kembali, bahkan oleh klien-klien korporat besar.
Tips Optimal di Atas Panggung
Menjadi MC yang bisa menghadirkan energi bukan cuma soal latihan, tapi juga ritual personal.
Saya selalu datang lebih awal, observasi venue, interaksi sama panitia, dan yang paling penting, jaga stamina.
Sofik Emeraldy
Ritual favoritnya? Minum air kelapa, kunyah kencur, dan minum air hangat sebelum tampil. Hal-hal sederhana yang jadi senjata utama menjaga suara tetap prima.
Salah satu pengalaman paling ‘seru’ buat Sofik adalah saat nge-MC di acara outdoor dan tiba-tiba hujan deras.
“Rundown basah kuyup, tinta luntur, listrik sempat mati. Saya harus total improvisasi!”
Di situ ia belajar: jadi MC bukan soal hapalan. Tapi soal kepekaan, spontanitas, dan kemampuan menjaga atmosfer tetap hidup walau langit runtuh.
“MC itu bukan pelengkap. Kita pengatur ritme acara. Kita bisa bikin event memorable atau… sebaliknya.”
Baginya, MC harus hadir bukan cuma dengan suara, tapi dengan hati. Targetnya di setiap panggung adalah satu: membuat audiens merasa terhubung.
Belajar Lagi Demi Menghidupi Minat
Meski telah dikenal sebagai MC profesional, Sofik tak berhenti belajar. Ia kuliah lagi di KAHFI BBC Motivator School, memperdalam public speaking secara akademik.
Ia juga aktif mengikuti pelatihan dan sertifikasi dari berbagai lembaga komunikasi. “Komunikasi itu seni sekaligus sains. Harus diasah terus, karena tantangannya juga berkembang,” ujarnya.
Langkah ini menunjukkan satu hal: meski kariernya bermula dari ‘ketidaksengajaan’, Sofik tak pernah setengah-setengah dalam menjalaninya.
Suara yang Bernilai
Dari MC, ia merambah dunia voiceover. “Ternyata suara juga bisa menghasilkan uang,” candanya.
Kini ia sering diminta mengisi narasi video, iklan radio, bahkan voice assistant. “Kita bisa dibayar per paragraf, lho,” tambahnya sambil tertawa kecil.
Tapi di balik tawa itu, tersimpan kesungguhan: bahwa berbicara bukan cuma hobi, tapi jalan hidup yang bernilai.
Kembali ke Panggung PLN Mobile Jawara Run 2025
Ketika PLN Mobile Jawara Run 2025 memanggilnya sebagai MC utama, itu bukan hanya soal pekerjaan. Itu adalah pulang kampung. Ia kembali ke panggung besar, disaksikan ribuan orang, dan kembali menyuarakan semangat.
“Saya merasa tersentuh,” akunya. “Event ini besar, penuh energi positif, dan menjadi bukti bahwa konsistensi dalam berbicara bisa membawa kita ke panggung yang layak.”
Semua Orang Punya Suara, tapi Tidak Semua Memakainya
Sofik Emeraldy adalah bukti nyata bahwa suara bisa jadi jalan. Bukan hanya dalam arti harfiah, tapi suara sebagai pilihan hidup.
Dalam dunia yang bising oleh ambisi dan kebingungan arah, ia memilih jalan yang mungkin sepi di awal—tapi kini bergemuruh dengan makna.
Kalau saya bisa, kamu pun bisa. Karena semua orang punya suara. Tinggal, kamu berani atau tidak untuk menyuarakannya.
Sofik Emeraldy
Kalau kamu yang membaca ini masih ragu, ingatlah satu hal: Kadang, keberanian itu bukan datang dari dalam. Tapi dari ‘jebakan’ seseorang yang percaya bahwa kamu bisa.
Seperti yang dilakukan Setiawan Chogah pada Sofik—yang kini tak hanya bersuara, tapi bersinar.
Penulis: Keira Zareen
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.










