Apa artinya sebuah daerah tanpa tradisi budaya? Sebuah pertanyaan di awal ini mungkin akan jadi bahan renungan yang mendalam.
Sebuah daerah bisa saja kehilangan identitasnya jika tidak memiliki tradisi budaya yang menjadi ciri khas daerahnya.
Bisa dibilang, sebuah tradisi juga merupakan warisan budaya.
Tidak selalu dalam bentuk makanan khas dan tempat-tempat bersejarah, warisan budaya juga bisa berupa tradisi yang masih dijalankan dan dipegang teguh oleh masyarakat.
Seperti tradisi selametan dan adang yang dilaksanakan oleh masyarakat di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di pulau Jawa.
Tradisi Selametan: Lebih dari Sekadar Kenduri
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, selamatan atau selametan didefinisikan sebagai kenduri untuk meminta keselamatan.
Tapi sejatinya, maknanya jauh lebih dalam—ia adalah doa bersama, jalinan harap yang ditujukan kepada Tuhan dalam suasana yang hangat dan syahdu.
Biasanya, kegiatan ini dibarengi dengan ngariung, atau berbagi makanan yang disediakan oleh tuan rumah. Sebuah bentuk syukur dan kebersamaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari Kandungan hingga Kematian: Tradisi Selametan dalam Siklus Hidup
Jika dirunut dari periode hidup manusia, tradisi selametan ada yang dimulai sejak manusia masih dalam bentuk janin di kandungan.
Sebut saja acara selametan punaran, yakni sebuah tradisi yang digelar demi keselamatan janin saat berumur empat bulan.
Lalu, dilanjutkan lagi ketika usia janin tujuh bulan akan ada selametan rujakan. Begitu lahir, sang bayi akan disambut dengan selametan suguh tamu, dan cukuran atau tradisi pemberian nama bagi bayi.

Tidak hanya periode kelahiran, saat manusia tutup usia pun banyak sekali tradisi yang dilakukan. Contohnya, tradisi selametan bagi orang meninggal di Kota Serang yang tidak hanya digelar sampai acara tahlilan tujuh hari. Seterusnya akan ada selametan 40 hari, 100 hari, bahkan khaul setiap tahunnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, tradisi selametan juga seringkali dijumpai. Misalnya, jika ada capaian tertentu seringkali selametan akan digelar. Seperti saat tercapai keinginan membangun rumah, membeli kendaraan, ataupun kelulusan di jenjang karir. Selain itu, dalam momen-momen perayaan hari besar juga banyak sekali selametan yang dilaksanakan.
Nilai Gotong Royong dalam Tradisi Selametan dan Adang
Berbagai tradisi selametan tersebut sejatinya memiliki nilai-nilai luhur yang baik, seperti mengimplementasikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rasa syukur ini diungkapkan dengan berbagi kebahagiaan ke sesama manusia dalam bentuk makanan (riungan) atau uang (saweran). Hal ini dilakukan karena biasanya keinginan telah dikabulkan oleh Sang Maha Kuasa.
Tak hanya nilai berbagi sebagai bentuk rasa syukur, dalam selametan juga terdapat nilai gotong royong yang telah menjadi ciri khas bangsa kita, Indonesia. Nilai gotong royong ini terimplementasi melalui kegiatan adang. Adang merupakan kegiatan masak memasak dalam jumlah besar dan biasanya melibatkan orang-orang yang tinggal di sekitar si empunya hajat. Kegiatan adang ini biasanya menjadi penopang utama setiap gelaran selametan.
Tradisi Selametan di Tengah Gempuran Zaman Modern
Nilai-nilai luhur dalam setiap tradisi tentunya harus tetap dijaga agar tujuan mulia dibalik tradisi tersebut bisa tercapai.
Namun, seiring berkembangnya zaman, banyak nilai-nilai yang mulai bergeser. Kini, banyak masyarakat yang menjalankan tradisi namun hanya sebatas seremonial tanpa memahami urgensi dan esensinya.
Ketika Tradisi Menjadi Beban: Ritual Tanpa Makna
Jika sudah seperti ini, sebuah tradisi hanya akan menjadi ritual tanpa makna. Tradisi yang seharusnya bisa membawa nilai kebaikan bagi pelaksananya justru hanya akan meninggalkan beban.
Sebagai contoh, nilai berbagi dan saling tolong antar sesama dalam tradisi selametan tidak akan tercapai jika yang melaksanakan tradisi tersebut merasa terpaksa karena terbebani dengan anggaran selametan yang tidak sedikit.
Mereka melaksanakan tradisi selametan berdasarkan standar kebanyakan orang, bukan mengukur pada kapasitas pribadi.
Bahkan tidak sedikit kasus orang yang rela pinjam uang dalam jumlah besar demi melaksanakan tradisi selametan sesuai standar masyarakat pada umumnya.
Padahal jika menilik dari maksud mulia sesungguhnya, tradisi selametan tidak harus mewah. Semuanya diukur sesuai dengan kemampuan masing-masing individu.
Menjaga Esensi Tradisi Selametan agar Tak Hilang Arah
Pelaksanaan selametan pun bukanlah hal yang wajib. Esensi penting dari tradisi ini adalah mengajarkan bagaimana kita mensyukuri semua pemberian Tuhan.
Jika kita bisa kembali ke nilai-nilai asli itu, maka selametan akan hidup kembali sebagai ruang spiritual yang hangat, bukan ruang kompetisi sosial.
Dan ketika makna sudah mengakar kembali, maka masyarakat tak perlu disuruh atau diwajibkan. Mereka akan melestarikan tradisi itu sendiri—karena mereka telah merasakannya: keindahan, kedamaian, dan keberkahan yang mengalir darinya.
Penulis: Kholi Abas
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




