• Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
Techfin Insight
0

Tidak ada produk di keranjang.

Notifikasi
Kirim Tulisan
  • Trending Topics:
  • PLN
  • PLN UID Banten
  • AI
  • Personal Finance
  • Phones/Tablets/Mobile
  • Investasi
  • Apple
  • Keuangan
  • PLN Mobile
  • Karier
  • Teknologi
  • Books/Movies
  • iPhone
  • Indeks
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Keuangan
  • Sains
  • Gaya Hidup
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • ShopNew
  • Personalize
    • Dasbor Penulis
    • Riwayat Bacaan
    • Tulisan Tersimpan
    • My Feed
    • My Interests
Reading: Tradisi Selametan: Warisan Budaya atau Sekadar Ritual Seremonial?
Share
Techfin InsightTechfin Insight
0
  • Indeks
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Keuangan
  • Sains
  • Gaya Hidup
  • Kultur
  • Persona
  • Insight
  • Utilitas
  • DPRD Banten
  • Riwayat Bacaan
  • Tulisan Tersimpan
  • My Feed
  • My Interests
Cari
  • Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Jadi PenulisNew
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
  • History
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Keuangan
  • Sains
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • DPRD Banten

Jelajah Ruang Baca

Jejak Wawasan

  • Riwayat Bacaan
  • Bacaan Tersimpan
  • My Feed
  • My Interests

Terkini

Internet Ngebut Saat Mudik, Indosat Buktikan Jaringan Tetap Stabil

26 Mar 2026

OpenAI Tutup Sora, Tanda Pergeseran Besar AI

25 Mar 2026

Listrik Nyaris Tanpa Cela Saat Lebaran, PLN Buktikan Kesiapan Nasional

24 Mar 2026

Listrik Tanpa Gangguan, Salat Id di Al Amjad Berjalan Khidmat

21 Mar 2026

Call for Writers 🧑🏻‍💻

Tulis gagasanmu dan menginspirasilah bersama Techfin Insight! 💡
Kirim Tulisan
Punya akun di Techfin Insight? Sign In
Stay Connected
© 2026 Techfin.id. Designed with ❤️ by dezainin.com
Kultur

Tradisi Selametan: Warisan Budaya atau Sekadar Ritual Seremonial?

Tradisi selametan bukan sekadar ritual. Artikel ini membahas nilai luhur di baliknya dan bagaimana menjaga esensinya agar tak hilang oleh zaman.

Oleh: Kholi Abas - Penikmat Tulisan
Publikasi: Sabtu, 2 Agustus 2025 - 23.21 WIB
Share
Di tengah lingkaran kebersamaan, tumpeng bukan sekadar sajian—ia adalah doa yang dibentuk menjadi rupa, syukur yang dibagi dalam setiap suapan, dan ingatan kolektif tentang siapa kita sebagai bangsa.
Di tengah lingkaran kebersamaan, tumpeng bukan sekadar sajian—ia adalah doa yang dibentuk menjadi rupa, syukur yang dibagi dalam setiap suapan, dan ingatan kolektif tentang siapa kita sebagai bangsa.
Navigasi Konten
  • Tradisi Selametan: Lebih dari Sekadar Kenduri
  • Dari Kandungan hingga Kematian: Tradisi Selametan dalam Siklus Hidup
  • Nilai Gotong Royong dalam Tradisi Selametan dan Adang
  • Tradisi Selametan di Tengah Gempuran Zaman Modern
  • Ketika Tradisi Menjadi Beban: Ritual Tanpa Makna
  • Menjaga Esensi Tradisi Selametan agar Tak Hilang Arah

Apa artinya sebuah daerah tanpa tradisi budaya? Sebuah pertanyaan di awal ini mungkin akan jadi bahan renungan yang mendalam.

Sebuah daerah bisa saja kehilangan identitasnya jika tidak memiliki tradisi budaya yang menjadi ciri khas daerahnya.

Bisa dibilang, sebuah tradisi juga merupakan warisan budaya.

Tidak selalu dalam bentuk makanan khas dan tempat-tempat bersejarah, warisan budaya juga bisa berupa tradisi yang masih dijalankan dan dipegang teguh oleh masyarakat.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Seperti tradisi selametan dan adang yang dilaksanakan oleh masyarakat di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di pulau Jawa.

Tradisi Selametan: Lebih dari Sekadar Kenduri

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, selamatan atau selametan didefinisikan sebagai kenduri untuk meminta keselamatan.

Tapi sejatinya, maknanya jauh lebih dalam—ia adalah doa bersama, jalinan harap yang ditujukan kepada Tuhan dalam suasana yang hangat dan syahdu.

Biasanya, kegiatan ini dibarengi dengan ngariung, atau berbagi makanan yang disediakan oleh tuan rumah. Sebuah bentuk syukur dan kebersamaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dari Kandungan hingga Kematian: Tradisi Selametan dalam Siklus Hidup

Jika dirunut dari periode hidup manusia, tradisi selametan ada yang dimulai sejak manusia masih dalam bentuk janin di kandungan.

Sebut saja acara selametan punaran, yakni sebuah tradisi yang digelar demi keselamatan janin saat berumur empat bulan.

Lalu, dilanjutkan lagi ketika usia janin tujuh bulan akan ada selametan rujakan. Begitu lahir, sang bayi akan disambut dengan selametan suguh tamu, dan cukuran atau tradisi pemberian nama bagi bayi.

Tradisi Selametan
Ngariung, atau berbagi makanan yang disediakan oleh tuan rumah. Sebuah bentuk syukur dan kebersamaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tidak hanya periode kelahiran, saat manusia tutup usia pun banyak sekali tradisi yang dilakukan. Contohnya, tradisi selametan bagi orang meninggal di Kota Serang yang tidak hanya digelar sampai acara tahlilan tujuh hari. Seterusnya akan ada selametan 40 hari, 100 hari, bahkan khaul setiap tahunnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, tradisi selametan juga seringkali dijumpai. Misalnya, jika ada capaian tertentu seringkali selametan akan digelar. Seperti saat tercapai keinginan membangun rumah, membeli kendaraan, ataupun kelulusan di jenjang karir. Selain itu, dalam momen-momen perayaan hari besar juga banyak sekali selametan yang dilaksanakan.

Nilai Gotong Royong dalam Tradisi Selametan dan Adang

Berbagai tradisi selametan tersebut sejatinya memiliki nilai-nilai luhur yang baik, seperti mengimplementasikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rasa syukur ini diungkapkan dengan berbagi kebahagiaan ke sesama manusia dalam bentuk makanan (riungan) atau uang (saweran). Hal ini dilakukan karena biasanya keinginan telah dikabulkan oleh Sang Maha Kuasa.

Tak hanya nilai berbagi sebagai bentuk rasa syukur, dalam selametan juga terdapat nilai gotong royong yang telah menjadi ciri khas bangsa kita, Indonesia. Nilai gotong royong ini terimplementasi melalui kegiatan adang. Adang merupakan kegiatan masak memasak dalam jumlah besar dan biasanya melibatkan orang-orang yang tinggal di sekitar si empunya hajat. Kegiatan adang ini biasanya menjadi penopang utama setiap gelaran selametan.

Tradisi Selametan di Tengah Gempuran Zaman Modern

Nilai-nilai luhur dalam setiap tradisi tentunya harus tetap dijaga agar tujuan mulia dibalik tradisi tersebut bisa tercapai.

Namun, seiring berkembangnya zaman, banyak nilai-nilai yang mulai bergeser. Kini, banyak masyarakat yang menjalankan tradisi namun hanya sebatas seremonial tanpa memahami urgensi dan esensinya.

Ketika Tradisi Menjadi Beban: Ritual Tanpa Makna

Jika sudah seperti ini, sebuah tradisi hanya akan menjadi ritual tanpa makna. Tradisi yang seharusnya bisa membawa nilai kebaikan bagi pelaksananya justru hanya akan meninggalkan beban.

Sebagai contoh, nilai berbagi dan saling tolong antar sesama dalam tradisi selametan tidak akan tercapai jika yang melaksanakan tradisi tersebut merasa terpaksa karena terbebani dengan anggaran selametan yang tidak sedikit.

Mereka melaksanakan tradisi selametan berdasarkan standar kebanyakan orang, bukan mengukur pada kapasitas pribadi.

Bahkan tidak sedikit kasus orang yang rela pinjam uang dalam jumlah besar demi melaksanakan tradisi selametan sesuai standar masyarakat pada umumnya.

Padahal jika menilik dari maksud mulia sesungguhnya, tradisi selametan tidak harus mewah. Semuanya diukur sesuai dengan kemampuan masing-masing individu.

Menjaga Esensi Tradisi Selametan agar Tak Hilang Arah

Pelaksanaan selametan pun bukanlah hal yang wajib. Esensi penting dari tradisi ini adalah mengajarkan bagaimana kita mensyukuri semua pemberian Tuhan.

Jika kita bisa kembali ke nilai-nilai asli itu, maka selametan akan hidup kembali sebagai ruang spiritual yang hangat, bukan ruang kompetisi sosial.

Dan ketika makna sudah mengakar kembali, maka masyarakat tak perlu disuruh atau diwajibkan. Mereka akan melestarikan tradisi itu sendiri—karena mereka telah merasakannya: keindahan, kedamaian, dan keberkahan yang mengalir darinya.

Kredit Redaksi:
Penulis: Kholi Abas
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.
© 2026 Techfin Insight. Konten ini boleh dikutip untuk keperluan non-komersial. Cantumkan sumber dan tautkan ke artikel asli di Techfin Insight. Untuk penggunaan ulang secara menyeluruh atau di luar konteks editorial (misalnya komersial), silakan hubungi redaksi.
- Advertisement -
duologi setiawan chogahduologi setiawan chogah
TOPIK:adangbudaya lokalgotong royongnilai syukurritual keagamaanselametantradisi Jawawarisan budaya

Kirim Tulisan

Ingin cerita, gagasan, atau opinimu dibaca lebih banyak orang?
✨ Tulis gagasanmu dan mulailah menginspirasi. Baca Panduan Editorial Techfin Insight. Lihat Syarat & Ketentuan Tulisan.
Share tulisan ini, yuk!
Facebook Whatsapp Whatsapp LinkedIn Threads Copy link
Author:Kholi Abas
Penikmat Tulisan
Follow:
Aku adalah seseorang yang baru merutinkan kembali kebiasaan membaca buku dan mengulasnya. Jenis buku yang aku suka adalah fiksi, sejarah, dan biografi. Seperti membaca, dulu aku juga mempunyai kebiasaan menulis. Beberapa tulisan pernah dimuat di media juga penerbit. Tapi itu dulu. Sekarang, aku sedang berusaha mengembalikan hobi yang kedua itu, menulis.
Tulisan Sebelumnya 👈 Buy Now Pay Later: Menolong atau Menjerat?
👉 Tulisan Selanjutnya PLN Mobile Jawara Run 2025, event olahraga massal perdana yang digagas oleh PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Banten, sukses menyatukan masyarakat lintas usia dan latar belakang dalam satu semangat: hidup sehat dan layanan kelistrikan digital yang makin dekat. Lari, Hiburan, dan Inovasi: PLN Mobile Jawara Run 2025 Tuai Apresiasi Gubernur Banten
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Terkini

Teknologi

Internet Ngebut Saat Mudik, Indosat Buktikan Jaringan Tetap Stabil

26 Mar 2026
Teknologi

OpenAI Tutup Sora, Tanda Pergeseran Besar AI

25 Mar 2026
Teknologi

Listrik Nyaris Tanpa Cela Saat Lebaran, PLN Buktikan Kesiapan Nasional

24 Mar 2026
Teknologi

Listrik Tanpa Gangguan, Salat Id di Al Amjad Berjalan Khidmat

21 Mar 2026
Bisnis

Listrik Tetap Nyala Saat Idulfitri, PLN Banten Pastikan Ibadah Aman

21 Mar 2026
- Advertisement -
Ad imageAd image

Ruang Baca

Techfin Insight
Facebook X-twitter Instagram Threads Whatsapp

Techfin Insight hadir sebagai media alternatif yang fokus mengabarkan inovasi dan perkembangan terkini di bidang teknologi, bisnis, keuangan, serta tantangan yang kita hadapi setiap hari. Kami menganalisis bagaimana bisnis dan teknologi saling bersinggungan, mempengaruhi, dan memberikan dampak pada berbagai lini kehidupan untuk mewujudkan transformasi budaya di dunia yang semakin saling terhubung ini.

Ad image
  • Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Jadi PenulisNew
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
  • History
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Keuangan
  • Sains
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • DPRD Banten
  • About Us
  • Advertising & Partnership
  • Terms & Conditions
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Guest Post
  • Contact

© 2026 Techfin.id. Designed with ❤️ by dezainin.com