Techfin Insight — Percakapan tentang luka dan pemulihan menjadi tema utama dalam kegiatan Ngabuburead Sehat Mental 2026 yang diinisiasi oleh Rumah Konseling Aku Temanmu, program layanan kesehatan mental di bawah Dompet Dhuafa Banten, di Terasya Eat & Meet, Kota Serang, Sabtu (14/3/2026).
Dalam diskusi yang berlangsung menjelang waktu berbuka puasa tersebut, penulis Setiawan Chogah membahas dua novelnya, Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka dan Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada. Kedua buku ini diterbitkan oleh Techfin Insight, tempat Setiawan juga menjabat sebagai Editor-in-Chief.
Lebih dari seratus peserta—sebagian besar anak muda—hadir untuk mengikuti diskusi yang tidak hanya membedah isi buku, tetapi juga mengajak peserta merefleksikan pengalaman manusia dalam menghadapi luka batin.
Luka sebagai Benih
Dalam diskusi tersebut, Setiawan menjelaskan bahwa dua novel yang ia tulis berangkat dari gagasan sederhana: luka tidak selalu harus dihapus.
Dalam cerita yang ia bangun, luka digambarkan seperti benih yang jatuh ke tanah batin manusia.
Jika benih itu dirawat dengan kemarahan dan penolakan, ia bisa berubah menjadi semak berduri. Namun jika dipahami dengan kesabaran dan penerimaan, luka justru dapat tumbuh menjadi pohon yang meneduhkan.
Metafora ini menjadi inti dari kedua buku tersebut.
“Luka tidak selalu harus hilang. Kadang ia hanya perlu dipahami dan dirawat dengan cara yang benar,” ujar Setiawan dalam diskusi tersebut.
Kisah Raif dan Perjalanan Pulang
Tokoh utama dalam kedua novel itu adalah Raif, seorang laki-laki yang membawa luka, stigma, dan kesalahpahaman dalam hidupnya.
Namun cerita Raif tidak dibangun sebagai kisah tentang seseorang yang sepenuhnya sembuh dari masa lalu. Sebaliknya, ia digambarkan sebagai seseorang yang belajar hidup berdampingan dengan lukanya.
Dalam perjalanannya, Raif menemukan cara sederhana untuk memahami hidup: menanam pohon, menulis, dan mendengarkan cerita orang lain.
Perjalanan itu menjadi metafora tentang bagaimana seseorang perlahan menemukan jalan pulang kepada dirinya sendiri.
Sastra Sunyi
Setiawan menyebut gaya penulisan kedua buku tersebut sebagai “sastra sunyi.”
Dalam pendekatan ini, cerita tidak dibangun dengan konflik dramatis atau tempo yang cepat. Narasi bergerak pelan, memberi ruang bagi pembaca untuk berhenti sejenak di antara kalimat-kalimatnya.
Menurut Setiawan, beberapa pengalaman manusia—terutama yang berkaitan dengan luka dan pemulihan—memang tidak bisa dipahami dengan tergesa-gesa.
Karena itu, kedua novel tersebut ditulis dengan ritme yang reflektif, mengajak pembaca untuk merenung, bukan sekadar mengikuti alur cerita.
Metafora Alam dan Sains
Hal lain yang menarik dari kedua buku tersebut adalah penggunaan metafora dari dunia botani dan sains.
Konsep tentang pertumbuhan pohon, relung ekologi, hingga fenomena gelombang dalam fisika digunakan untuk menjelaskan pengalaman batin manusia.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa perjalanan manusia sering kali mengikuti pola yang mirip dengan cara alam bekerja: perlahan, konsisten, dan tidak instan.
Buku sebagai Ruang Refleksi
Dalam diskusi Ngabuburead tersebut, moderator Muhamad Jutana, konselor Rumah Konseling Aku Temanmu, menilai bahwa buku yang berbicara tentang perjalanan pemulihan memiliki peran penting bagi masyarakat.
Menurutnya, membaca kisah orang lain sering membantu seseorang memahami perjalanan batinnya sendiri.
Dalam kajian akademik, pendekatan ini dikenal sebagai biblioterapi, yaitu penggunaan buku sebagai media untuk membantu seseorang memproses pengalaman emosionalnya.
Diskusi sore itu menjadi bukti bahwa karya sastra dapat membuka ruang percakapan yang lebih luas tentang kesehatan mental.
Dari Pain Menuju Peace
Tema From Pain to Peace yang diangkat dalam Ngabuburead menggambarkan gagasan utama dari kedua novel tersebut: perjalanan manusia dari luka menuju kedamaian batin.
Perjalanan itu tidak selalu cepat atau mudah. Ia berlangsung perlahan, seperti pohon yang tumbuh diam-diam dari benih kecil.
Namun jika dipahami dengan jujur, luka justru dapat menjadi bagian dari proses pertumbuhan manusia.
Seperti yang disampaikan Setiawan dalam diskusi tersebut, tidak semua luka harus dihapus.
Sebagian luka cukup ditanam—dan suatu hari bisa tumbuh menjadi pohon yang memberi teduh.
Penulis: Arden Gustav
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




