Techfin Insight — Saya pernah berpikir bahwa sebagian besar penderitaan yang kita alami berasal dari luar diri. Dari dunia yang tampak tak adil. Dari orang-orang yang menyakiti. Dari situasi yang tak bisa kita kendalikan.
Namun, semakin saya belajar memahami rasa, semakin saya sadar: banyak penderitaan justru lahir dari keinginan kita untuk mengendalikan segala sesuatu.
Ruang Kerja yang Mengajak Diam
Pagi ini saya menulis. Di ruang kerja yang jendelanya saya biarkan terbuka sejak subuh. Suara jangkrik masih terdengar, pelan tapi enggan beranjak. Sementara kicau burung mulai menyusun melodi pembuka hari.
Cahaya bulan yang lambat pulang menyelinap dari balik daun Ficus virens yang tumbuh dua tahun terakhir ini. Ia tumbuh diam-diam, tanpa menuntut, tapi kuat. Seperti saya hari ini—tidak meledak, tidak juga merendah. Hanya tumbuh, perlahan dan sadar.
Tubuh yang Akhirnya Memercayai
Tubuh saya terasa tenang. Saya tidur lebih awal dan bangun tanpa alarm. Tak ada notifikasi, tak ada kewajiban mendesak. Seolah tubuh ingin berkata: “Terima kasih karena telah berhenti menjawab pertanyaan yang bukan untukmu.”
Dan mungkin benar, tubuh tahu kapan waktunya menyembuhkan. Saat kita mulai hidup dalam kesadaran penuh, brainwave kita pun berubah. Dari beta yang sibuk dan penuh sangka, menuju alpha yang tenang dan reflektif. Di titik itulah, tubuh mulai memercayai kita.
Saya belajar: tidak semua pertanyaan perlu dijawab.
Tidak Semua Pertanyaan Harus Dijawab
“Sudah menikah?”
“Kerja di mana?”
“Anaknya berapa?”
“Sudah punya rumah?”
Pertanyaan-pertanyaan ini sering dilontarkan sebagai basa-basi. Tapi sering pula menjadi semacam lem perekat budaya yang diam-diam mengikis kepercayaan diri seseorang.
Saya pernah berada di titik itu. Merasa perlu menjawab semuanya. Seolah kebahagiaan saya perlu validasi sosial agar sah di mata orang lain.
Padahal, hanya saya yang tahu rasanya melewati malam yang sunyi, pagi tanpa pelukan, atau sore penuh renungan. Hanya saya yang tahu keputusan mana yang datang dari luka, dan mana yang tumbuh dari cinta.
Pernah Menikah, Kini Mengerti
Saya pernah menikah.
Dan saya tidak menyesal telah menjalaninya. Tapi saya juga tidak ingin mengulanginya. Bukan karena trauma, melainkan karena saya tahu itu bukan jalan saya lagi.
Pernikahan, bagi sebagian orang, adalah impian agung. Bagi saya, ia adalah pengalaman yang mengajarkan batas. Bahwa cinta tidak selalu harus dikukuhkan oleh status. Bahwa damai bisa tumbuh dari memahami, bukan memiliki.
Setiawan Chogah
Hidup Sesuai Nilai Diri Sendiri
Carl Rogers menyebut seseorang yang hidup selaras dengan nilai-nilainya sendiri sebagai the fully functioning person. Kesehatan psikologis, kata Rogers, muncul ketika seseorang berhenti hidup berdasarkan harapan eksternal.
Dan hari ini, saya belajar menjalani hidup secara sadar. Saya tidak hidup untuk menjawab rasa penasaran orang lain. Saya hidup untuk menyadari dan menjawab panggilan dari dalam diri saya sendiri.
Saya teringat kutipan yang sangat menguatkan dari Viktor Frankl, penyintas Holocaust yang kemudian menjadi psikolog sosial terkemuka di AS.
Between stimulus and response, there is a space. In that space is our power to choose our response.”
Di antara pertanyaan dan jawaban, selalu ada ruang. Dan dalam ruang itu, saya memilih. Kadang saya memilih untuk tidak menjawab—dan itu sah.

Menjadi Utuh Tanpa Harus Dimengerti Semua Orang
Karena semakin dewasa, saya menyadari bahwa menjaga kedamaian batin lebih penting daripada tampil baik di mata orang lain, baik menurut versi dan ekspektasi mereka. Hidup saya tidak harus masuk akal bagi siapa pun, kecuali bagi saya sendiri.
Kini, saat seseorang bertanya, “Kapan menikah lagi?” saya hanya tersenyum. Sebab saya tahu, pertanyaan itu bukan tentang saya. Itu tentang konstruksi sosial yang belum tentu saya setujui.
Hidup bukanlah kurikulum seragam. Bukan kompetisi. Bukan juga panggung yang harus selalu saya isi dengan pertunjukan terbaik.
Kadang hidup justru adalah lorong sepi—tempat saya bertemu diri sendiri dan menyadari bahwa yang saya butuhkan bukan validasi, melainkan keberanian untuk setia pada pilihan saya.
Saya tidak anti pernikahan, tentu saja. Banyak yang menemukan bahagia di sana. Tapi saya tahu, tidak semua orang perlu melaluinya untuk merasa utuh.
“Pernikahan adalah final stage,” kata sebagian orang. Saya tidak setuju. Pernikahan bisa jadi persimpangan. Bisa berlanjut, bisa juga tidak. Dan semua itu valid.”
Di tengah dunia digital yang ramai, saya belajar satu hal penting: Kadang, menjawab diri sendiri lebih penting daripada menjelaskan kepada orang lain.
Saya menjaga ruang itu. Ruang dalam yang tidak semua orang bisa masuki. Ruang yang hanya saya dan Tuhan tahu isinya. Ruang penuh proses, air mata, dan keputusan yang diam-diam telah menyelamatkan saya.
Kehidupan yang Tidak Perlu Selalu Dijelaskan
Saya tidak lagi membangun hidup untuk menjawab penasaran orang lain. Saya membangunnya sebagai ruang untuk hidup yang autentik. Saya tahu apa yang saya butuhkan. Saya belajar berkata tidak pada hal-hal yang menurunkan vibrasi alami tubuh dan jiwa saya.
Sebagian teman menyebut saya egois. Tapi saya lebih percaya pada bioenergi: tubuh menyimpan dan memancarkan vibrasi yang bisa diukur. Vibrasi itu turun saat kita terlalu ingin mengontrol segala hal. Tapi ketika kita menerima hidup apa adanya, sangka-sangka pun mereda.
Dan saya belajar, bahwa bahagia bukan tentang sempurna, melainkan tentang cukup.
Cukup untuk bisa menatap cermin dan berkata, “Aku melihatmu. Dan aku tidak ingin kamu menjadi orang lain hanya untuk membuat dunia nyaman.”
Saya pernah kelelahan, bukan karena pekerjaan, melainkan karena terlalu sering menjelaskan siapa saya kepada mereka yang tak sungguh-sungguh ingin tahu.
Hari ini, saya belajar bernapas. Saya menulis sambil menyaksikan matahari mengusir bayangan bulan. Ficus virens di luar jendela melambai pelan, seolah berkata: “Terima kasih karena telah bertahan.”
Saya menatap halaman kosong di jurnal saya, lalu menuliskan ini—bukan sebagai jawaban, tapi sebagai ruang untuk saya, dan juga mungkin untuk kamu—bertumbuh.
Di bawah pohon tempat saya menulis sekarang, 19 Juli 2025.





