Makkah Jahiliyah: Riuh yang Retak
Ingatan saya kemudian melebar, tidak lagi hanya pada anak kecil itu, tetapi juga pada panggung dunia yang lebih luas. Di utara, Persia masih menyimpan warisan filsafat dan istana megah; Babilonia menulis langit dengan ilmu perbintangan; Roma menegakkan hukum dengan tangan besi; Yunani meninggalkan jejak pemikiran yang panjang; bahkan di Kapilavastu, tanah kerajaan kecil suku Sakya, seorang pangeran pernah lahir dan kelak dikenal sebagai Siddharta Gautama. Semua itu adalah pusat cahaya, tempat manusia mencari makna dan menulis sejarahnya.
Namun Muhammad justru lahir di Makkah—sebuah kota suku kecil, tanpa kitab, tanpa akademia, tanpa istana. Sebuah kota yang hidup hanya dari riuh pasar dan peribadatan yang terbelit ritual nenek moyang. Bukan kota yang dituju orang untuk menimba ilmu, bukan pula nama yang disematkan dalam percakapan bangsa-bangsa besar. Ia hanya sebuah titik kecil di padang pasir yang luas.
Di sanalah, ironisnya, cahaya peradaban baru akan lahir.
Makkah—kota yang riuh oleh kafilah yang singgah dan pasar yang sesak, kota yang seakan hidup hanya dari hiruk-pikuk dagang dan syair, tanpa pernah benar-benar menoleh pada kebijaksanaan.
Pasar Ukaz adalah panggung kebanggaan: para penyair berdiri tegak, suara mereka menjelma lantang, melantunkan bait-bait panjang dengan rima yang membuat para pendengar terperangah, lalu disambut tepuk tangan, disusul tawa besar, dan sering kali diakhiri dengan mabuk arak yang menjerat malam menjadi bising tanpa makna.
Di jalan-jalan, perempuan diperlakukan sebagai barang, ditukar dengan harta, dijadikan komoditas. Perang antarsuku bisa meletus hanya karena seekor kuda yang terinjak, dendam yang diwariskan turun-temurun menjelma lingkaran darah yang tidak pernah selesai. Dan di antara luka itu, ada pemandangan yang lebih sunyi namun lebih menyakitkan: bayi perempuan dikubur hidup-hidup, tubuh kecilnya ditelan pasir hanya karena dianggap beban, suara tangisnya tenggelam di antara teriakan para lelaki yang merasa mulia.
Kata jahiliyah sering disederhanakan sebagai kebodohan, tetapi sesungguhnya ia lebih dalam daripada sekadar tidak tahu; ia adalah tatanan yang timpang, sebuah sistem yang mengagungkan darah suku lebih tinggi dari kebenaran, yang menempatkan kekuatan di atas kasih, yang menjadikan mabuk sebagai hiburan, dan perang sebagai kebiasaan.
Di tengah masyarakat seperti itu, Muhammad tumbuh sebagai anak yatim, matanya yang jernih menangkap luka yang merajalela, telinganya yang peka menyimpan suara-suara getir, hatinya yang sunyi menyerap riuh yang retak. Dunia di sekelilingnya bising, tetapi dari dalam dirinya lahir keheningan yang pelan, hening yang kelak akan menjelma pangkal risalah.
Al-Amin: Sang Terpercaya
Di tengah hiruk kota yang retak oleh perang sia-sia dan mabuk yang tak berkesudahan, ada satu nama yang pelan-pelan tumbuh berbeda, nama seorang pemuda yatim yang tidak punya harta berlimpah, tidak mewarisi istana, tidak datang dari garis bangsawan—namun tutur katanya selalu lurus, langkahnya tidak pernah menipu, dan dalam setiap transaksi dagang, kejujurannya menjadi semacam kabar baik yang beredar dari mulut ke mulut.
Orang-orang mulai menyebutnya Al-Amin—yang terpercaya. Sebuah gelar yang sederhana, tapi sesungguhnya lebih tinggi nilainya daripada tahta, sebab ia lahir dari kepercayaan yang tidak bisa dibeli. Di pasar Makkah, ketika orang lain sibuk menggelembungkan harga dan menekan yang lemah, Muhammad muda justru menimbang dengan jujur, tidak mengambil keuntungan dari kesempitan orang lain.
Ada satu kisah yang kerap diingat, ketika Ka’bah harus diperbaiki setelah retakan pada bangunannya. Suku-suku berselisih keras tentang siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad, batu hitam yang disucikan itu. Perselisihan yang kecil hampir saja menjelma perang, pedang sudah digenggam, darah siap ditumpahkan.
Muhammad muda lalu maju dengan tenang. Ia mengambil sehelai kain, meletakkan Hajar Aswad di tengahnya, lalu meminta setiap pemimpin suku memegang ujung kain itu bersama-sama. Dengan begitu, semua merasa terhormat, tidak ada yang ditinggalkan. Lalu ia sendiri mengangkat batu itu dari kain, menempatkannya di sudut Ka’bah. Perang pun reda, dan orang-orang menyimpan lagi pedang mereka.
Itu bukan kemenangan seorang raja, bukan pula kecerdikan seorang politikus. Itu hanyalah kebijaksanaan seorang anak yatim, yang sejak kecil belajar bahwa luka terbesar manusia sering lahir dari perasaan ditinggalkan—dan karena itu, ia tahu bagaimana caranya membuat semua orang merasa tetap diikutsertakan.
Namun jauh sebelum orang Makkah menjulukinya dengan gelar itu, Muhammad remaja telah ikut pamannya, Abu Thalib, dalam perjalanan dagang ke utara. Kafilah yang panjang berangkat menembus padang pasir, unta-unta berjalan perlahan, debu beterbangan, matahari menggantung di langit tanpa ampun. Ia masih belia, tubuhnya tak berbeda dari anak-anak lain, tetap harus menapaki pasir yang panas, tetap harus menahan dahaga yang membakar tenggorokan, tetap harus berjalan di bawah terik yang membuat kulit perih. Tidak ada yang istimewa dari dirinya di mata manusia kala itu, kecuali ketekunan dan kesabaran seorang anak muda yang menuntun langkah.
Perjalanan itu sampai di Busra, sebuah kota kecil di wilayah Yordania. Di sanalah seorang rahib Kristen bernama Buhaira memperhatikan kafilah ini. Matanya tertuju pada pemuda yang berjalan di belakang unta. Ia melihat sesuatu yang lain: awan tipis yang seakan mengikuti, cahaya wajah yang sulit dijelaskan, keteduhan yang tak biasa dari seorang anak belia.
Dalam tradisi mereka, ada tanda-tanda kenabian yang dikenali dari kitab. Buhaira kemudian berkata kepada Abu Thalib, bahwa anak muda itu kelak akan menjadi nabi, pembawa risalah bagi umat manusia. Kata-kata itu seperti bisikan angin yang cepat hilang ditelan riuh pasar, tidak semua orang percaya, Muhammad sendiri kembali ke Makkah tanpa pernah menaruh klaim pada dirinya. Ia tetap hidup sederhana, tetap berdagang dengan jujur, tetap dikenal sebagai Al-Amin.
Namun perjumpaan di padang pasir utara itu menyisakan jejak sunyi. Seperti daun yang jatuh diam-diam ke sungai, terbawa arus tanpa bunyi, tapi kelak akan mencapai muaranya. Sejarah sering bergerak begitu: pelan, nyaris tak terdengar, namun meninggalkan arah yang tak terbantahkan.
Hari-hari setelah itu berjalan seperti biasa, nyaris tanpa peristiwa yang mengejutkan. Muhammad kembali ke Makkah, menggembala kambing, berdagang bersama pamannya, dan sesekali barangkali memeluk dirinya sendiri dalam kerinduan yang samar pada ibunda yang sudah lama tiada—sebuah kerinduan yang tak bisa ia beri nama, tapi yang diam-diam menambah kedalaman tatapannya.
Usianya bertambah, dan ketika ia genap dua puluh lima, pertemuan dengan seorang saudagar perempuan kaya bernama Khadijah menjadi babak baru. Khadijah berusia empat puluh, matang dengan pengalaman hidup, sementara Muhammad masih muda, tapi jujurnya telah dikenal luas. Ia diutus memimpin kafilah dagang Khadijah, dan dari perjalanan itu lahirlah kepercayaan, lalu cinta yang mematahkan sekat usia.
Pernikahan itu menjadi rumah yang teduh. Khadijah bukan hanya pasangan hidup, tapi juga penopang batin—seseorang yang memahami keresahan Muhammad, yang membiarkannya mencari jawaban dalam kesunyian, yang tidak menuntutnya sibuk di pasar semata, melainkan memberi ruang bagi gelisahnya untuk menepi.
Dan dari rumah itulah, malam-malam sunyi Muhammad semakin sering membawanya ke perbukitan, ke sebuah gua bernama Hira.
Penulis: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




