Techfin Insight – Saya kadang bertanya dalam diam: sejak kapan kita begitu galak satu sama lain? Sejak kapan dunia maya menjelma menjadi gelanggang kemarahan kolektif, di mana orang saling meludah kata tanpa jeda, tanpa empati, tanpa rasa malu?
Setiap kali saya membuka media sosial, yang saya temukan bukan sekadar informasi. Melainkan hujan emosi.
Komentar sinis di kolom berita, ejekan atas penampilan seseorang, nyinyir yang dibungkus nasihat, dan adu argumen yang tak pernah selesai.
Dunia digital ini, tampaknya, semakin bising. Ini benar-benar negeri yang berisik.
Dan ini bukan cuma perasaan saya. Microsoft, melalui laporan Digital Civility Index tahun 2020, menempatkan Indonesia di peringkat ke-29 dari 32 negara dalam hal kesopanan digital.
Artinya, kita adalah yang paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Bahkan, sering kali bukan sekadar tidak sopan—tapi kejam.

Saya masih ingat bagaimana komentar-komentar menghina Wakil Presiden muncul begitu ringan: menyebutnya “planga-plongo” seperti sedang bercanda.
Atau lelucon “Tangkap Anies!” yang viral tanpa nalar. Lucu bagi sebagian orang, menjijikkan bagi nurani yang masih hidup.
Apakah ini bentuk baru dari demokrasi, atau hanya cermin bahwa kita belum dewasa dalam bermedia?
Yang lebih membuat miris adalah cara kita memperlakukan perbedaan sebagai ancaman. Lihat saja kolom komentar ketika seorang perempuan menyuarakan pendapatnya.
Ia tak hanya diserang argumennya, tapi juga wajahnya, bajunya, bahkan status pernikahannya. Semua jadi bahan olokan.
Kadang saya merasa: dunia ini semakin keras bukan karena banyak yang jahat, tapi karena yang baik mulai kelelahan.
Lalu saya bertanya: apa yang bisa saya lakukan sebagai seseorang yang mencintai hidup, namun muak dengan kebisingan yang terus menggerogoti energi batin?
Kita tidak bisa mengendalikan angin, tapi kita bisa menyesuaikan layar.
Epictetus
Saya belajar dari para filsuf Stoik. Tentang bagaimana bersikap tenang dalam badai, tentang bagaimana menjaga kebeningan hati di tengah dunia yang terus memuntahkan racun.
Bagi seorang stoik, jawabannya bukan mengubah dunia, tapi mengelola diri.
Menyaring, Bukan Menyerang
Saya mulai belajar menyaring, bukan menyerang. Ketika orang-orang ramai memperdebatkan logo HUT ke-80 RI yang dianggap jelek, saya diam.
Ketika video seseorang makan di restoran mewah dianggap pamer, saya melewatinya.
Ketika musik yang tak sesuai selera disebut “kampungan”, saya justru mendengarkannya lebih dalam.
Ketika fandom MCU dan DCU diadu seperti dua kubu politik yang bertikai, saya mengangguk pelan: “Ini bukan pertarungan yang perlu saya menangkan.”
Saya tidak ingin ikut-ikutan menyebut sebuah karya buruk hanya karena ia tidak sesuai dengan selera saya yang dangkal. Saya tidak ingin menjadi bagian dari barisan yang menghina, hanya karena tidak mengerti.
Karena saya tahu: sebuah film, lagu, bahkan secuil ekspresi diri—bukan hadir untuk memenuhi keinginan saya. Tapi untuk mengekspresikan dunia orang lain yang mungkin tak pernah saya kenali.
Stoik tidak menanggapi semuanya. Ia tahu, tidak semua harus diberi opini. Karena kadang diam bukan berarti kalah, tapi cara kita menjaga diri dari kegilaan yang tidak perlu.
Kadang, orang-orang begitu ringan berkomentar, sampai lupa bercermin diri: “Apakah saya benar jauh lebih baik, dan apakah saya sanggup mencipta sesuatu yang lebih layak dibandingkan dengan apa yang saya olok?
Setiawan Chogah
Mengenali Energi Rendah dan Menghindarinya
Saya percaya, energi negatif bisa merembes dari layar ke dalam jiwa. Maka saya memilih menepi. Ribuan akun sudah saya unfollow: akun gosip, selebritas dan tokoh publik dengan vibrasi rendah, juga media dengan narasi penuh sensasi.
Saya tidak melakukannya karena saya lemah. Justru karena saya ingin tetap kuat. Saya lebih memilih mengisi ruang batin saya dengan keheningan yang menyembuhkan, ketimbang kebisingan yang melukai.
Negativitas Sebagai Mata Uang Baru
Saya pelan-pelan mulai paham: tidak semua komentar lahir dari keresahan tulus. Sebagian hanya ingin panggung. Ingin di-notice. Ingin validasi.
Di dunia yang dikuasai algoritma, interaksi adalah bahan bakar. Dan sayangnya, emosi negatif sering kali lebih cepat terbakar. Semakin sinis, semakin pedas, semakin kasar—semakin tinggi pula jangkauan akun mereka.
Mereka mungkin tidak peduli benar atau salah. Yang penting ramai.
Kadang saya membayangkan, alangkah lucunya zaman ini: kita hidup di era ketika hinaan bisa dikonversi menjadi impresi, dan ejekan adalah jalan pintas menuju popularitas.
Komentar negatif kini seperti mata uang baru. Ia bisa membeli perhatian, mendatangkan follower, bahkan membuka pintu kolaborasi dan undangan wawancara.
Lucu dan menyedihkan dalam satu tarikan napas.
Maka tidak heran jika banyak orang memilih jadi jahat daripada biasa-biasa saja. Jadi menyakitkan daripada tenggelam.
Toh algoritma tidak pernah bertanya pada nurani. Ia hanya menghitung angka—bukan empati.
Dan di tengah semua itu, saya hanya bisa bertanya: kalau dunia sudah semiring ini, siapa yang masih mau berdiri lurus?
Mempraktikkan Ataraxia
Dalam Stoisisme, ada konsep indah bernama ataraxia—ketenangan batin yang tidak tergantung pada dunia luar.
Ini bukan berarti kita apatis, melainkan sadar mana yang bisa kita kendalikan dan mana yang harus kita lepaskan.
Menurut Dr. Jonathan Haidt, psikolog sosial dan penulis The Coddling of the American Mind, terlalu banyak paparan drama digital membuat kita hiper-reaktif.
Otak kita ini tidak dirancang untuk menampung begitu banyak konflik dalam satu hari. Maka tak heran bila kita mudah tersulut, bahkan oleh komentar orang asing yang tak pernah kita temui.
Memutuskan Siapa yang Layak Mengisi Pikiran
Saya sekarang sadar, membuka media sosial sama dengan membuka pintu rumah. Dan tak semua orang layak masuk ke ruang tamu pikiran saya.
Ada yang hanya datang untuk melempar sampah, ada yang pura-pura menyapa tapi menyusupkan racun.
Saya mulai menggunakan fitur mute, block, restrict, dan unfollow seperti memilih tamu. Bukan karena saya arogan, tapi karena saya punya hak untuk menjaga ketenangan batin saya.

Tidak Semua yang Berisik Butuh Ditanggapi
Saya tak ingin menjadi Polisi Moral. Saya tak perlu membenarkan semua hal. Biarkan orang hidup dengan keyakinannya. Dunia ini sudah cukup rumit tanpa harus saya tambahi dengan komentar saya yang tak dibutuhkan.
Dalam jurnal Personality and Individual Differences (2019), disebutkan bahwa orang yang sering memberikan opini keras di internet memiliki korelasi dengan kebutuhan validasi sosial yang tinggi.
Bukan karena benar, tapi karena butuh diakui. Dunia maya menjadi panggung, dan mereka hanya ingin tepuk tangan.
Jadi bukan karena mereka benar, tapi karena mereka ingin diakui. Dunia maya adalah panggung, dan mereka hanya ingin tepuk tangan.
Hidup adalah Pilihan, Bukan Algoritma
Saya tidak bisa lagi menyalahkan algoritma bila konten-konten toxic terus muncul, jika saya sendiri yang menontonnya sampai habis.
Seperti kata Marcus Aurelius: “The things you think about determine the quality of your mind.”
Maka saya memilih untuk berpikir hal-hal yang baik, untuk menjaga kualitas batin saya.
Kembali ke Diri
Dunia ini akan terus berisik. Tak akan pernah tenang. Tapi kita bisa belajar mendengarkan keheningan dalam diri sendiri.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa keras kita berteriak yang menentukan kualitas hidup, melainkan seberapa jernih kita bisa mendengar suara hati sendiri.
Saya percaya, hidup yang baik bukan tentang menjadi yang paling lantang di negeri yang berisik ini. Tapi tentang menjadi yang paling sadar, paling hadir, dan paling damai—meski hanya dalam diam.
Kalau kamu merasa dunia ini terlalu bising, mungkin sudah waktunya menepi. Bukan untuk menyerah, tapi untuk merawat.
Bukan untuk mundur, tapi untuk menyadari: tidak semua pertempuran harus kita ikuti, dan tidak semua panggung harus kita pijaki.
Penulis: Setiawan Chogah
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.





