Techfin Insight – Meskipun dikenal sebagai generasi yang sangat akrab dengan teknologi, riset terbaru justru mengungkap sisi menarik dari Gen Z.
Hanya 23% dari mereka yang benar-benar ingin bekerja penuh dari rumah. Data ini berasal dari survei Gallup dan menjadi penanda penting: keterhubungan digital tidak selalu berbanding lurus dengan kenyamanan bekerja jarak jauh.
Hasil riset tersebut juga menyoroti sisi emosional Gen Z. Mereka tercatat dua kali lebih sering mengaku kesepian dibandingkan Gen X dan hampir tiga kali lebih sering dibandingkan baby boomer.
Bagi generasi muda ini, layar dan gawai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan interaksi manusiawi.
Alih-alih mengurung diri di kamar dengan laptop, banyak Gen Z yang lebih menyukai kehadiran fisik di kantor. Ruang kerja bukan sekadar tempat menuntaskan tugas, melainkan wadah membangun jaringan, belajar langsung, dan menapaki tangga karier.
Mengapa Gen Z Menolak Full Remote?
Simon Roderick, Managing Director Fram Search, menekankan bahwa perkembangan karier bukan hanya tentang kemampuan menyelesaikan pekerjaan.
Ada nilai yang lahir dari koneksi tatap muka, sesuatu yang sulit digantikan oleh layar kaca.
Emma Dunning, Direktur Pace HR, mengamini pandangan tersebut. Menurutnya, kehadiran fisik membuka peluang mentorship, kolaborasi, hingga pembelajaran informal yang penting bagi karyawan muda.
“Apalagi di tahap awal karier, interaksi langsung bisa membantu membangun keterampilan dan pemahaman budaya kerja,” ujarnya dikutip dari People Management, Jumat (15/8/2025).
Tantangan Rasa Kesepian dan Solusi Hybrid
Gallup juga mengungkap, sistem kerja hybrid memang dapat mengurangi rasa kesepian Gen Z. Namun, pendekatan ini tidak sepenuhnya menjadi solusi.
Jadwal fleksibel berisiko membuat mereka datang ke kantor saat rekan kerja tidak hadir, sehingga peluang berinteraksi tetap terbatas.

Selain itu, faktor tempat tinggal ikut memengaruhi. Banyak Gen Z tinggal di hunian yang kurang ideal untuk bekerja penuh waktu dari rumah.
Maka, kantor menjadi alternatif yang lebih nyaman sekaligus kondusif untuk berkolaborasi.
Strategi Perusahaan Mengakomodasi Gen Z
Preferensi ini bisa dimanfaatkan perusahaan dengan menciptakan program yang memperkuat relasi antarkaryawan. Mentoring, buddy system, proyek lintas tim, hingga hari kolaborasi rutin adalah beberapa langkah efektif.
“Kantor perlu menjadi tempat yang memberi keuntungan nyata, seperti mendapatkan umpan balik langsung dari pimpinan atau kesempatan memimpin proyek.
Dengan begitu, Gen Z akan melihat kehadiran di kantor sebagai investasi untuk masa depan, bukan sekadar kewajiban,” tegas Dunning.
Dengan memahami motivasi di balik preferensi kerja Gen Z, perusahaan dapat merancang lingkungan kerja yang lebih selaras dengan kebutuhan mereka.
Bukan hanya demi produktivitas, tetapi juga demi kesejahteraan emosional generasi penerus dunia kerja ini.
Penulis: Ammar Fahri
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.



