Techfin Insight – Di tengah bisingnya dunia layar sentuh, ada suara lirih yang bangkit dari masa lalu. Suara itu datang bukan dari generasi yang pernah mencicipi kejayaan BBM, tapi dari mereka yang tumbuh besar bersama iPhone—para Gen Z.
Mereka mencari sesuatu yang tak pernah benar-benar mereka miliki: ponsel dengan keyboard fisik, yang mengetikkan rindu bukan dengan sentuhan hampa, tapi dengan bunyi klik yang nyata.
Bukan Soal Teknologi, Tapi Rasa yang Ditinggalkan
Di TikTok, ribuan video bermunculan. Bukan tren baru, bukan challenge nyeleneh—melainkan nostalgia. Ada yang memamerkan BlackBerry lawas yang dibeli dari eBay, ada pula yang menemukan ponsel legendaris itu dalam laci ayahnya, teronggok di antara kabel-kabel tua.
“Aku bosan dengan iPhone. Muak punya superkomputer yang selalu membuatku merasa kekurangan waktu,” ujar seorang pengguna TikTok.

Di kolom komentar, puluhan suara menyambutnya. Mereka lelah dengan notifikasi yang tak kunjung hening. Lelah dengan hidup yang digiring oleh algoritma.
“Aku rindu masa saat ponsel hanya secukupnya. Ketika mengetik butuh niat. Ketika obrolan terasa nyata,” tulis yang lain.
Bring Back BlackBerry, Sebuah Harapan dari Generasi yang Haus Ketulusan
Kevin Michaluk, nama yang dikenal sebagai pendiri CrackBerry—komunitas penggemar BlackBerry—melihat gelombang ini sebagai pertanda. Ia membuat petisi bertajuk Bring Back BlackBerry.
Bukan sekadar soal ponsel, tapi soal pilihan gaya hidup.
“Gen Z mengatakan cukup. Mereka menolak doomscrolling. Mereka ingin kembali merasakan makna komunikasi,” tulisnya.
Bagi Kevin, tombol-tombol BlackBerry bukan sekadar fitur—ia adalah simbol kesederhanaan yang kini makin sulit ditemukan.
Ketika Rasa Lebih Penting dari Spesifikasi
Meski BlackBerry telah lama meninggalkan dunia perangkat keras, namanya belum benar-benar padam. Merek itu masih hidup di ingatan dan kerinduan.
Beberapa merek mencoba mengisi ruang kosong itu: Zinwa, Unihertz, SidePhone, hingga Clicks—semua membawa kembali sensasi QWERTY, baik lewat ponsel modifikasi maupun aksesori tambahan.

Clicks, misalnya, menjual lebih dari 100 ribu unit keyboard fisik untuk iPhone. Ironisnya, hampir setengah dari pembelinya belum pernah menyentuh BlackBerry.
Tapi mereka tetap ingin merasakan kenikmatan analog di tengah dunia digital.
Karena Tak Semua yang Lama Harus Ditinggalkan
Ada masa ketika mengetik pesan berarti duduk sejenak. Ketika mengetuk tombol memerlukan niat. Saat itu, komunikasi tidak instan, tapi lebih bermakna.
Kini, lewat petisi dan nostalgia yang dibagikan secara daring, Gen Z mencoba memanggil kembali masa itu. Bukan karena ingin kembali ke masa lalu, tapi karena mereka merasa masa depan yang serba cepat ini terlalu melelahkan.
Dan mungkin, di tengah semua itu, BlackBerry bisa menjadi jeda. Sebuah jeda yang ditulis dengan klik, bukan swipe.
Penulis: Keira Zareen
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




