Techfin Insight – Ada banyak metode pengasuhan yang dikenal masyarakat saat ini. Metode pengasuhan, atau yang sering disebut parenting style, hadir dengan berbagai karakter. Mulai dari pola yang keras dan mengekang, sampai pola yang santai dan cenderung bebas.
Seiring perkembangan zaman, pola pengasuhan pun dituntut untuk beradaptasi, bahkan berinovasi.
Kini, di tengah derasnya arus era digital, manusia seakan dipaksa untuk hidup berdampingan dengan teknologi.
Ada sisi baik, ada pula sisi buruk, yang sedikit banyak memengaruhi kualitas hidup setiap individu. Karena itu, pola pengasuhan yang tepat sangat dibutuhkan agar lahir generasi yang mampu bertahan sekaligus bersinar.
Generasi yang dimaksud bukanlah mereka yang menolak kemajuan teknologi, juga bukan yang larut tanpa kendali.
Generasi inilah yang diharapkan bisa memanfaatkan peluang dari pesatnya arus informasi, tanpa melanggar norma dan etika bangsa.
Digital Parenting, Jawaban Tantangan Zaman
Istilah digital parenting muncul sebagai salah satu jawaban. Merujuk berbagai sumber, digital parenting berarti pola pengasuhan anak di era digital dengan mengedepankan pengawasan serta bimbingan dalam penggunaan teknologi dan informasi secara bijak.
Dalam urusan pengasuhan anak, sosok ibu kerap menjadi garda terdepan. Karena itu, seorang ibu dituntut memahami literasi digital—yakni kemampuan memanfaatkan media digital, mulai dari alat komunikasi hingga jaringan internet.
Namun, literasi digital bukan sekadar pengetahuan. Ia harus tampak dalam sikap dan perilaku yang bisa ditiru anak.
Ibu yang ingin anaknya cakap menggunakan teknologi, perlu memberi contoh nyata: menggunakan perangkat dengan bijak, tidak berlebihan, dan tetap sesuai kebutuhan.
Keamanan Anak di Ruang Digital
Kemajuan teknologi ibarat dua sisi mata pisau. Jika dimanfaatkan dengan benar, ia membawa manfaat besar. Namun, bila salah arah, bisa berbalik menjadi bumerang.
Contohnya, kasus-kasus yang menyangkut keamanan anak di ruang digital terus meningkat. Data menunjukkan, kasus kekerasan anak di dunia maya pada 2024 lebih tinggi dibanding 2023.
UNICEF bahkan melaporkan bahwa 45% anak dan remaja di Indonesia pernah mengalami cyber bullying, mulai dari intimidasi, pelecehan verbal, hingga penyebaran konten negatif.
Anonimitas dunia maya membuat pelaku merasa bebas tanpa tanggung jawab. Padahal, dampak buruknya nyata bagi anak-anak yang menjadi korban.
Meski pemerintah sudah berupaya menciptakan ruang digital yang aman lewat regulasi, tetap saja dukungan orangtua menjadi kunci utama.
Adu Kuat Ibu dan Anak
Dampak negatif ruang digital memang membuat orangtua was-was. Tetapi di sisi lain, teknologi juga banyak memberi manfaat.
Informasi lebih mudah diakses, proses belajar semakin kreatif, bahkan anak bisa mengembangkan bakatnya sejak dini.
Masalahnya, penggunaan gadget yang berlebihan membawa risiko lain. Dari kesehatan fisik—seperti gangguan mata dan saraf—hingga mental, seperti kecemasan, tantrum, hingga kecanduan layar.
Karena itu, orangtua perlu membuat aturan yang jelas. Misalnya, berapa lama anak boleh menatap layar, aplikasi apa saja yang boleh digunakan, hingga konten apa yang boleh dikonsumsi.
Aturan ini harus dijalankan dengan disiplin. Istilahnya, “jangan kasih kendor.”
Sekali aturan dilanggar, anak akan menangkap sinyal celah. Besar kemungkinan ia akan mengulanginya.
Orangtua juga sebaiknya tidak buru-buru membekali anak dengan gadget pribadi sebelum usia matang. Di bawah usia 13 tahun, anak belum cukup dewasa membedakan baik dan buruk.
Lebih baik orangtua tetap mendampingi setiap kali anak berinteraksi dengan layar.
Kalau pembiasaan ini dilakukan sejak dini, saat anak beranjak remaja mereka akan lebih terlatih menggunakan teknologi untuk hal-hal positif.
Peran Ibu yang Tak Tergantikan
Meski ayah dan ibu sama-sama punya peran, dalam praktiknya, ibu memang sering lebih dominan. Usia anak-anak adalah masa di mana kedekatan dengan ibu begitu kuat. Itu sebabnya, ibu dituntut lebih tegas dan konsisten.
Tak jarang, ibu melonggarkan aturan karena rasa kasihan atau lelah dengan urusan rumah tangga. Namun, jika sekali saja ibu mengalah, anak akan belajar bahwa aturan bisa dinegosiasikan.
Kabar baiknya, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki pola. Kuncinya, jadilah ibu yang kuat dalam prinsip, terutama saat mengawasi penggunaan gadget. Ketegasan ini bukan untuk membatasi, melainkan demi melindungi.
Karena pada akhirnya, digital parenting bukan sekadar soal gadget. Ia adalah tentang bagaimana ibu—dan tentu juga ayah—hadir penuh dalam tumbuh kembang anak.
Menjadi panutan, menjadi pendamping, dan menjadi pagar kokoh agar anak tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan bijak di era digital.
Penulis: Kholi Abas
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




