-30

Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka

Harga aslinya adalah: Rp80.000.Harga saat ini adalah: Rp56.000.

Ada luka yang tidak disembuhkan waktu, tetapi bisa ditenangkan oleh hal-hal yang tumbuh darinya. Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka mengikuti kisah Raif, seorang penulis yang hidupnya lebih akrab dengan hening daripada sorak.

Di rumah kecilnya, ia menanam pohon-pohon—ficus, cempaka, hingga mangga—seolah setiap daun mampu menahan kalimat agar tidak melukai. Di sekelilingnya ada Rangga, Dinda, Keira, dan orang-orang yang datang membawa cerita masing-masing.

Novel ini adalah kisah tentang cinta yang tidak selalu dimiliki, tentang kehilangan yang mengubah cara seseorang memandang hidup, dan tentang keberanian menanam sesuatu yang baru setelah patah.

Mengapa pembaca menyukai novel ini

• Novel reflektif tentang cinta, kehilangan, dan perjalanan pulih setelah luka

• Ditulis dengan gaya puitis yang lembut dan kontemplatif

• Menghadirkan tokoh-tokoh yang terasa dekat dan manusiawi

• Mengajak pembaca memahami bahwa tidak semua cinta harus dimiliki

• Cocok dibaca perlahan, seperti perjalanan pulang yang tidak tergesa

Kategori:

Tentang Buku

Ada luka yang tak disembuhkan waktu, tetapi bisa ditenangkan oleh pohon-pohon yang tumbuh darinya. Ada cinta yang sulit diberi nama, namun tetap memilih menjadi rumah—meski tak pernah dimiliki.

Inilah kisah Raif, seorang penulis yang hidupnya lebih akrab dengan hening daripada sorak. Ia menata rumah kecil, menanam Ficus virens, Michelia champaca, Nepenthes mirabilis, zaitun, hingga mangga. Setiap daun menjadi doa yang menahan kalimat agar tidak melukai.

Lalu ada Rangga—anggota satuan berseragam hitam. Gagah di lapangan, rapuh dalam sunyi. Hidupnya adalah apel pagi, bus satuan, bandara, misi, dan kata “pulang” yang kerap tertunda.

Mereka bertemu bukan untuk saling memiliki, melainkan untuk belajar bertahan dengan cara paling sederhana: mendengar, menjaga, menunggu. Dari kursi beton taman, dari sepatu roda kecil Keira, dari wangi cendana yang singgah di pergelangan, sampai selembar surat yang ditinggalkan di meja bersama kunci rumah.

Novel ini juga tentang Dinda—ketabahan yang memilih damai; Keira—anak kecil yang memberi nama pada pohon seolah pohon pun bisa menjadi ayah kedua; Ayra—editor yang berani jujur; dan Amar—kawan yang datang membawa napas pelan. Mereka bukan sekadar tokoh; mereka adalah cara kisah ini menanam akar.

Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka adalah novel tentang rumah dan jalan pulang. Tentang cinta yang berakar tanpa harus menguasai, tentang kehilangan yang justru menumbuhkan bayang, wangi, dan teduh.

Bila kau pernah menyimpan rahasia yang tak boleh diucapkan, mencintai seseorang yang tak bisa kau miliki, atau kembali ke rumah yang sudah berubah—mungkin di antara cabang-cabang cerita ini kau akan menemukan dirimu sendiri.

Sebab pulang bukanlah alamat.

Pulang adalah cara berjalan.


Edisi Extended

(Cetakan Kedua – Oktober 2025)

Edisi ini memuat:

  • 1 bab baru yang memperluas perjalanan Raif

  • tambahan 10 halaman catatan Raif versi nyata

  • bahasa yang diperhalus dan detail mikro yang disempurnakan

Napas kisahnya kini terasa lebih utuh.

Diterbitkan oleh Techfin Insight.


Spesifikasi Buku

  • 246 halaman

  • Ukuran 14 × 21,6 cm

  • Pilihan sampul: Softcover dan Hardcover

  • Dicetak di kertas book paper cream yang ramah baca


Beberapa Kutipan dari Buku

“Beberapa luka, ketika dibiarkan duduk, kelak bisa menjadi rumah bagi orang lain untuk kembali.”

“Ada kata-kata yang tidak pernah kita sebut; bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena menyebutnya berarti kita harus berhenti berbohong pada diri sendiri.”

“Aku pernah berat dalam hal lain. Tidak semua orang menang dalam perang yang sama, tetapi kita semua pernah kalah di tempat yang tak pernah kita ceritakan.”

“Pernikahan bukan upacara, melainkan keputusan yang diperbarui setiap hari. Setia bukan soal tidak pernah tergoda, melainkan tetap memilih kembali.”

“Ada orang yang pulang bukan karena menang, melainkan karena ingin mulai lagi.”

“Diam juga cara agar kalimat bisa lahir dengan benar.”

“Jangan biarkan diam menjadi cara halus menolak orang yang ingin hidup di sekitarmu. Diam bisa menjadi kejam.”

“Ada malam ketika aku ingin menjadi kota kecil tanpa lampu, supaya kau lupa jalan pulang. Tapi ada pagi ketika aku ingin menjadi peta, supaya kau menemukan dirimu sendiri.”


Cocok untuk Kamu yang

  • Menyukai prosa reflektif, metaforis, dan menenangkan

  • Mencari bacaan tentang cinta, kehilangan, dan penerimaan

  • Ingin menghadiahkan buku bermakna bagi seseorang yang sedang belajar pulih


Catatan Pengiriman

Setiap eksemplar dikemas dengan hati-hati, disertai pesan kecil dan tanda tangan dari penulis.

Agar penulis dapat menuliskan sapaan personal (misalnya: Untuk Rani, semoga halaman ini menjadi rumah kecilmu), tuliskan nama pada kolom catatan saat checkout.

Jika tidak ada nama, buku tetap dikirim dengan tanda tangan penulis tanpa sapaan personal agar tetap rapi dan netral.

Buku dikirim langsung oleh penulis.

Apabila stok cover lama habis, buku akan dikirim dalam desain cover terbaru dengan isi yang sama.


Mengapa Buku Ini Ditulis

Ada masa ketika hidup terasa seperti halaman yang tidak selesai. Kita berjalan, tetapi tidak benar-benar tahu ke mana pulang. Kita mencintai, tetapi tidak selalu bisa memiliki. Kita kehilangan, tetapi tetap harus belajar hidup setelahnya.

Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka lahir dari kegelisahan yang sangat manusiawi itu: bagaimana seseorang tetap hidup dengan lembut setelah patah.

Novel ini tidak ditulis untuk menjelaskan luka, apalagi menghakimi cara orang bertahan. Ia ditulis untuk menemani. Untuk mengingatkan bahwa ada orang-orang yang memilih berjalan pelan, menanam sesuatu di tanah yang pernah retak, dan percaya bahwa kehidupan masih bisa tumbuh dari sana.

Raif, Rangga, Dinda, Keira, Ayra, dan Amar adalah cara cerita ini berbicara tentang banyak bentuk kesetiaan: pada rumah, pada kenangan, pada seseorang, dan pada diri sendiri.

Jika di suatu masa kamu pernah merasa sendirian menghadapi hal-hal yang tidak bisa diceritakan kepada siapa pun, mungkin buku ini akan terasa seperti bangku kecil di bawah pohon—tempat kita bisa duduk sebentar, bernapas, dan tidak terburu-buru untuk sembuh.

Berat1 kg
Dimensi22 × 14 × 5 cm