Techfin Insight – Setiap akhir pekan, mal-mal di kota besar kembali ramai. Lantai demi lantai dipenuhi wajah-wajah ceria, kelompok ibu dan anak, pasangan muda, hingga rombongan remaja yang datang bersama sahabatnya. Mereka berjalan santai, melihat-lihat etalase, sesekali duduk di food court, atau hanya berfoto di depan instalasi dekoratif yang sedang naik daun.
Namun di tengah keramaian yang semarak itu, dua istilah unik kembali ramai dibicarakan: Rojali dan Rohana. Mungkin terdengar seperti nama orang tua kita, tetapi sebenarnya keduanya adalah akronim yang cukup menggigit—meski dibalut dengan canda.
Rojali adalah singkatan dari Rombongan Jarang Beli. Sementara Rohana adalah Rombongan Hanya Nanya. Keduanya merujuk pada perilaku kelompok pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan hanya untuk melihat-lihat, bertanya-tanya, namun jarang sekali benar-benar melakukan transaksi pembelian.
Fenomena ini, walau terdengar menghibur, menyimpan cerita sosial dan ekonomi yang lebih dalam.
Tidak Baru, Tetapi Kini Lebih Terasa
Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, fenomena Rojali dan Rohana bukanlah hal yang baru. Sejak lama, pusat perbelanjaan memang telah menjadi ruang rekreasi masyarakat.
“Sejak dulu memang ada pengunjung yang datang hanya untuk jalan-jalan tanpa berbelanja,” ujar Alphonzus.
Namun yang berbeda kali ini adalah intensitasnya. Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah pengunjung yang tergolong Rojali dan Rohana meningkat. Hal ini dianggap sebagai refleksi dari daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, terutama pascapandemi dan dalam kondisi tekanan ekonomi global saat ini.
“Sekarang jumlahnya makin terasa, karena daya beli belum kembali seperti sebelum pandemi. Apalagi di kalangan bawah,” tambahnya.
Meski begitu, Alphonzus meyakinkan bahwa fenomena ini belum sampai mengguncang kinerja pusat belanja secara keseluruhan.
Di luar Pulau Jawa, katanya, kondisi masih cukup stabil. Namun ia mengingatkan bahwa bila daya beli tidak segera membaik, dampaknya bisa menjalar ke sektor lain seperti ritel, manufaktur, bahkan hingga keuangan.

Strategi Bertahan: Diskon, Promo, dan Ruang Bersantai
Untuk menjawab tantangan ini, para pengelola pusat perbelanjaan tak tinggal diam. Mereka kini berlomba-lomba menggelar promosi—dari diskon akhir pekan, cashback, sampai undian berhadiah.
Langkah ini diambil bukan hanya untuk meningkatkan penjualan, tetapi juga untuk memperpendek masa “low season” yang pada tahun ini cukup panjang karena Ramadan dan Lebaran datang lebih awal.
Pusat perbelanjaan juga didorong untuk tidak sekadar menjadi tempat transaksi, tetapi ruang sosial. Food court yang nyaman, ruang baca, area bermain anak, hingga panggung hiburan lokal kini menjadi magnet tambahan yang membuat pengunjung tetap datang, meski hanya untuk bersantai.
Pemerintah: Ini Bukan Masalah Besar
Dari sisi pemerintah, Menteri Perdagangan Budi Santoso melihat fenomena ini dengan lebih santai. Ia menilai bahwa perilaku “lihat-lihat dulu” adalah hal yang lumrah. “Orang bisa memilih mau belanja online atau langsung ke toko. Dari dulu juga sudah begitu,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa banyak konsumen yang datang ke toko hanya untuk membandingkan kualitas dan harga. Mereka ingin memastikan produk yang akan dibeli—terutama barang elektronik dan fashion—benar-benar asli, sebelum akhirnya memutuskan berbelanja secara daring.
“Jadi cek langsung ke toko dulu, baru beli online,” jelasnya.
BPS: Bukan Miskin, Tapi Menahan Konsumsi
Fenomena Rojali dan Rohana pun mendapat perhatian dari Badan Pusat Statistik (BPS). Deputi Bidang Statistik Sosial, Ateng Hartono, mengatakan bahwa perilaku ini belum tentu menandakan kemiskinan secara langsung, tetapi bisa menjadi sinyal tekanan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat, khususnya kelompok rentan.
“Fenomena Rojali memang belum tentu menunjukkan kemiskinan, tapi tetap relevan sebagai gejala sosial. Ini bisa menandakan adanya tekanan ekonomi di lapisan tertentu,” ujarnya.
Menariknya, data Susenas Maret 2025 menunjukkan bahwa penurunan konsumsi bukan hanya terjadi di kalangan bawah, tetapi juga kelompok dengan pengeluaran tinggi. Hal ini berarti, bukan hanya mereka yang kekurangan, tetapi juga kelompok menengah dan atas mulai berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
Namun, penurunan konsumsi ini belum serta-merta berdampak pada statistik kemiskinan nasional. “Memang ada kecenderungan menahan belanja di kelompok atas. Tapi ini tidak serta-merta mengubah statistik kemiskinan nasional,” jelas Ateng.
Per Maret 2025, jumlah penduduk miskin Indonesia tercatat sebanyak 23,85 juta jiwa atau setara dengan 8,47 persen dari total populasi. Angka ini justru menurun dibandingkan periode September 2024.
Rojali dan Rohana: Ruang Hiburan yang Tak Pernah Mati
Meskipun para Rojali dan Rohana kerap dianggap “mengganggu target penjualan”, tak bisa dimungkiri bahwa kehadiran mereka tetap menghadirkan keramaian dan kehidupan sosial di mal.
Mereka menjadi bagian dari denyut ruang publik kota. Bagi sebagian orang, mal adalah tempat hiburan gratis, tempat untuk menyegarkan pikiran, berkumpul dengan keluarga, atau sekadar menghindari panas dan polusi luar ruangan.
Jika ditilik lebih jauh, fenomena ini adalah potret nyata masyarakat urban Indonesia hari ini—dengan tantangan ekonomi, perubahan perilaku konsumsi, dan cara baru dalam mengakses barang serta jasa.
Rojali dan Rohana bukan sekadar guyonan. Mereka adalah refleksi dari bagaimana rakyat mencoba tetap waras di tengah tuntutan hidup. Dan mungkin, mereka hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya berkata: “Ya, saya beli.”
Giliranmu yang Menginspirasi
Punya cerita, gagasan, atau opini yang layak dibaca lebih banyak orang? Di Techfin Insight, kami membuka ruang untuk tulisan-tulisan yang menggugah lintas topik. Buat akun dan kirim karyamu di sini.
Penulis: Ammar Fahri
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.



