Jakarta, Techfin Insight – Pagi itu, jalan Sudirman-Thamrin yang biasanya penuh tawa dan semangat Car Free Day masih menyisakan jejak luka.
Coretan-coretan hitam menodai pembatas jalan, pot bunga berantakan, dan sampah menumpuk di pinggir jalur. Jakarta baru saja melewati hari-hari panas—demonstrasi yang menyisakan kerusakan di ruang publik.
Di tengah arus warga yang bersepeda, berlari, dan berjalan santai, ada pemandangan yang tak biasa.
Sejumlah orang dengan cat putih, kuas, dan tenaga sukarela memilih berhenti. Mereka bukan petugas dari pemerintah, bukan pula kontraktor berbayar.
Mereka adalah Koalisi Pejalan Kaki dan Koalisi Pesepeda yang turun tangan merawat kota mereka.
Warga yang Tidak Menunggu
Car Free Day pada Minggu (31/8) itu menjadi berbeda. Alih-alih sekadar menikmati udara pagi, komunitas ini sibuk membersihkan sisa coretan dan menambal pot-pot bunga yang rusak.
Mereka mengecat ulang pembatas, menyapu jalur sepeda, dan merapikan yang bisa dirapikan.
“Kalau tidak kita yang merawat, siapa lagi?” begitu semangat yang berulang kali terdengar di lapangan.
Ada kesadaran yang lahir dari pengalaman: jalur sepeda di Jakarta sudah lama tidak mendapatkan alokasi dana APBD untuk perawatan.
Jika hanya menunggu, jalur itu akan dibiarkan rusak. Maka warga mengambil alih peran—bukan dengan demonstrasi atau seruan lantang, melainkan dengan kuas cat dan tenaga yang tulus.
Aksi yang Lebih Lantang dari Slogan
Di linimassa, ribuan komentar muncul setiap kali foto-foto kerusakan fasilitas kota dibagikan. Banyak yang marah, banyak yang menuntut.
Tapi di pagi itu, marah dan tuntutan berubah menjadi gerakan kecil yang sederhana: tangan yang rela kotor.
Mereka menutupi coretan di pembatas bukan hanya untuk mengembalikan keindahan, tetapi juga untuk menyampaikan pesan: kota ini milik bersama.
Tidak cukup hanya menuntut, kota juga perlu dirawat dengan kesadaran kolektif.
Seperti ditulis Koalisi Pejalan Kaki dalam unggahan Instagram mereka:
Kota hanya bisa benar-benar hidup bila warganya mau merawat, bukan sekadar menuntut.
Koalisi Pejalan Kaki
Merawat dengan Cinta
Ada ironi yang tak bisa diabaikan. Warga kota membayar pajak, tapi mereka sadar sebagian fasilitas publik yang mereka cintai tidak diprioritaskan.
Jalur sepeda, misalnya, harus mereka rawat sendiri. Bukannya membuat mereka kecewa, kesadaran ini justru melahirkan gerakan baru: bahwa cinta kota tidak selalu lahir dari atas, kadang tumbuh dari akar.
Melihat mereka membersihkan jalan, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Tangan-tangan yang mengusap cat di dinding pembatas seolah sedang mengusap luka kota yang memar.
Cinta Kota dalam Aksi Nyata
Kota sering dipandang sebagai ruang abstrak: kebijakan, anggaran, pembangunan. Tapi pagi itu, kota menjadi sesuatu yang lebih personal.
Kota adalah jalur sepeda yang mereka gunakan setiap hari, trotoar tempat mereka berjalan, dan pot bunga yang mereka rawat.
Kota adalah ruang hidup yang nyata—dan jika ruang itu rusak, mereka sendiri yang paling merasakannya.
Perdebatan tentang siapa yang paling cinta kota mungkin tidak ada habisnya. Namun aksi sederhana ini memberi jawaban yang tenang: cinta kota adalah ketika kita mau menjaga, meski tanpa nama dan tanpa pamrih.
Di tengah hiruk pikuk politik dan perdebatan di media sosial, Jakarta justru mendapat hadiah kecil dari warganya: sebuah teladan.
Bahwa merawat kota tidak harus menunggu instruksi, tidak harus menunggu anggaran, dan tidak harus menunggu orang lain.
Barangkali inilah wajah kota yang sesungguhnya: rapuh, penuh luka, tapi juga memiliki warganya yang rela menambal, mengecat, dan membersihkan.
Karena kota bukan hanya milik pemerintah atau pejabat. Kota adalah kita semua. Dan ia hanya akan benar-benar hidup jika kita mau merawatnya, bukan sekadar menuntut.
Penulis: Arden Gustav
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.










