Techfin Insight – Di balik nama besar Djarum, tersimpan cerita kecil tentang makam yang makin mengecil. Tentang industri yang tumbang, tentang tangan yang terus membangun dari reruntuhan. Dan tentang satu perasaan yang tak bisa dibantah: takut kehilangan.
Victor Rachmat Hartono, generasi penerus Grup Djarum, berdiri di panggung Universitas Paramadina bukan dengan membanggakan daftar kepemilikan saham atau kilau ekspansi bisnis.
Ia bercerita tentang makam—bukan metafora, benar-benar makam keluarga—yang dari generasi ke generasi makin menyusut ukurannya.
Sebuah simbol yang tak bisa dipungkiri, bahwa kejayaan bisa menyusut… bahkan lenyap.
“Kamu gak ngerti betapa insecure-nya kita,” kata Victor, suaranya mungkin tenang, tapi nadanya menyimpan gemuruh.
“Kita pernah kehilangan nafkah, bukan sekali, tapi dua kali. Kita tahu rasanya bangkrut,” tuturnya dalam acara Meet The Leaders by Universitas Paramadina di Trinity Tower, Jakarta Selatan, Sabtu (26/7).
Dari Minyak Kacang ke Mercon, Lalu Gugur di Kudus
Jauh sebelum kretek jadi napas Djarum, keluarga Hartono adalah pedagang minyak kacang tanah. Sebuah industri yang berjalan baik… sampai datangnya minyak kelapa sawit, yang pelan-pelan menyingkirkan mereka dari pasar.
Belum sempat pulih, mereka mencoba lagi: kembang api Cap Leo. Tahun 1927, industri mercon dianggap cerah. Tapi sejarah punya kehendak sendiri. 1942, pendudukan Jepang menutup semua ruang. Bubuk mesiu dilarang, pabrik ditutup, impian padam.

Bayangkan—dua usaha keluarga, dua-duanya tumbang karena kekuatan eksternal yang tak bisa mereka lawan. Minyak kacang ditumbangkan oleh revolusi sawit. Kembang api padam karena perang.
Bagi Victor, ini bukan semata urusan bisnis. Ini luka sejarah. Luka keluarga.
Kekhawatiran Itu Kini Bernama Diversifikasi
Maka jangan heran jika Djarum hari ini tak hanya jual rokok. Mereka merambah bank, teknologi, kesehatan, olahraga. Banyak yang mencibir: kenapa ekspansi ke mana-mana? Serakah?
Tapi Victor menjawab dengan satu kata: insecure.
Rasa takut itu nyata. Takut kalau satu hari industri utama ambruk lagi. Seperti dua kali sebelumnya. Maka, mereka menanam benih di banyak ladang.
Tak semua akan tumbuh, tapi lebih baik mencoba daripada kehilangan segalanya lagi.
“Inilah dasar dari ekspansi kami: rasa tak percaya diri,” ujarnya, “rasa tidak aman yang diturunkan dari sejarah.”
Multitasking sebagai Napas Bertahan
Victor mengakui, keputusan untuk masuk ke berbagai industri memang tak selalu logis secara linier. Tapi, di dunia yang bergerak liar, bertahan berarti lincah. Mereka mengandalkan multitasking ability bukan sebagai tren, tapi sebagai senjata bertahan.
“Keluarga kami dan tim kami bisa multitasking,” ucapnya mantap.
Karena yang mereka bangun hari ini, bukan hanya perusahaan. Tapi juga jaring pengaman emosional. Sebuah perlindungan dari rasa kehilangan yang pernah mereka alami terlalu dalam.
Penulis: Keira Zareen
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




